![]() |
| Deretan pedagang kaki lima di kawasan Pantai Batu Hiu terpantau sepi pembeli menjelang Ramadan, Jumat (13/02/2026). |
Pangandaran (BK) –
Aktivitas ekonomi di kawasan wisata pesisir menjelang bulan suci Ramadan menunjukkan dinamika yang berbeda dibandingkan periode liburan panjang. Di Pantai Batu Hiu, salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Pangandaran, geliat pedagang kaki lima (PKL) cenderung melambat akibat menurunnya jumlah kunjungan wisatawan.
Pantai yang dikenal dengan panorama laut lepas, gazebo, serta sejumlah titik swafoto ini selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat sekitar. Deretan PKL yang tertata rapi menjajakan aneka makanan, minuman, hingga cendera mata khas daerah. Namun, berdasarkan pantauan pada Jumat siang (13/02/2026), jumlah pengunjung terlihat terbatas. Wisatawan yang datang didominasi pelancong domestik menggunakan kendaraan pribadi, dengan hanya satu bus pariwisata tercatat berasal dari Purwakarta, Jawa Barat.
Tarwiyah (65), salah seorang pedagang, mengungkapkan bahwa kondisi sepi telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
“Memang beberapa bulan ini sangat sepi pengunjung yang datang. Biasanya ramai ketika menjelang munggahan Ramadan. Kalau ramai, alhamdulillah kami kebagian rezekinya,” tuturnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan ketergantungan ekonomi pelaku usaha kecil terhadap siklus musiman kunjungan wisata.
Secara infrastruktur, akses menuju kawasan wisata di Pangandaran relatif memadai. Jalur antar pantai telah terhubung dengan baik, memungkinkan wisatawan melanjutkan perjalanan ke sejumlah destinasi lain seperti Pantai Batu Karas, serta melintasi Jembatan Wiradinata Rangga Jipang yang sempat menjadi perhatian publik. Selain itu, tersedia pula kawasan wisata kuliner, kampung nelayan, pantai pasir putih, hingga pusat oleh-oleh khas Pangandaran.
Dari aspek tata kelola, pemerintah daerah melalui Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Pangandaran terus melakukan pembinaan dan penertiban terhadap PKL. Kepala Satpol PP Kabupaten Pangandaran, Dedih Rakhmat, menegaskan bahwa penataan dilakukan bersama unsur gabungan untuk menjaga kebersihan dan kerapian kawasan wisata.
Secara infrastruktur, akses menuju kawasan wisata di Pangandaran relatif memadai. Jalur antar pantai telah terhubung dengan baik, memungkinkan wisatawan melanjutkan perjalanan ke sejumlah destinasi lain seperti Pantai Batu Karas, serta melintasi Jembatan Wiradinata Rangga Jipang yang sempat menjadi perhatian publik. Selain itu, tersedia pula kawasan wisata kuliner, kampung nelayan, pantai pasir putih, hingga pusat oleh-oleh khas Pangandaran.
Dari aspek tata kelola, pemerintah daerah melalui Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Pangandaran terus melakukan pembinaan dan penertiban terhadap PKL. Kepala Satpol PP Kabupaten Pangandaran, Dedih Rakhmat, menegaskan bahwa penataan dilakukan bersama unsur gabungan untuk menjaga kebersihan dan kerapian kawasan wisata.
“Penertiban dilakukan sebagai langkah antisipasi lonjakan wisatawan yang berpotensi menyebabkan kawasan pantai menjadi kumuh, terutama menjelang libur Lebaran,” ujarnya saat ditemui di kantornya.
Secara empiris, fenomena penurunan kunjungan menjelang Ramadan sejalan dengan teori siklus musiman pariwisata, di mana permintaan wisata cenderung fluktuatif mengikuti kalender keagamaan dan hari besar nasional. Bagi pelaku usaha mikro di kawasan pesisir, kondisi ini menuntut strategi adaptif, baik melalui diversifikasi produk, inovasi layanan, maupun kolaborasi promosi berbasis komunitas.
Dengan potensi alam dan dukungan infrastruktur yang tersedia, optimalisasi promosi serta penguatan manajemen destinasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar. Harapan para pedagang kini tertuju pada momentum libur Ramadan dan Idulfitri, yang selama ini menjadi periode pemulihan pendapatan tahunan mereka. (Yayan/BK)
Secara empiris, fenomena penurunan kunjungan menjelang Ramadan sejalan dengan teori siklus musiman pariwisata, di mana permintaan wisata cenderung fluktuatif mengikuti kalender keagamaan dan hari besar nasional. Bagi pelaku usaha mikro di kawasan pesisir, kondisi ini menuntut strategi adaptif, baik melalui diversifikasi produk, inovasi layanan, maupun kolaborasi promosi berbasis komunitas.
Dengan potensi alam dan dukungan infrastruktur yang tersedia, optimalisasi promosi serta penguatan manajemen destinasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar. Harapan para pedagang kini tertuju pada momentum libur Ramadan dan Idulfitri, yang selama ini menjadi periode pemulihan pendapatan tahunan mereka. (Yayan/BK)







