Post ADS 1
REDAKSI
Kamis, 2/19/2026 06:12:00 PM WIB
HeadlineRagam

Ramadan Jadi Momentum Muhasabah, Pengawas PAI Kuningan Ajak Perbaiki Diri


Drs. Aang Taufik, M.S.I., Pengawas PAI Kabupaten Kuningan.




KUNINGAN, (BK). – 


Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi momentum refleksi dan perbaikan diri. Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Kuningan, Drs. Aang Taufik, M.S.I., mengajak umat Islam menjadikan bulan suci sebagai sarana muhasabah dan transformasi spiritual, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Ajakan tersebut disampaikan Aang dalam keterangannya di Kuningan, Kamis (19/2/2026), menjelang rangkaian kegiatan keagamaan Ramadan di berbagai sekolah dan masjid.

Menurutnya, Ramadan memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia menegaskan, puasa merupakan instrumen pembentukan karakter takwa sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.

“Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ini adalah madrasah takwa. Di sinilah kita belajar jujur, sabar, dan ikhlas,” ujar Aang.

Ia merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan kewajiban puasa agar umat Islam mencapai derajat takwa. Ayat tersebut, kata dia, menekankan bahwa tujuan utama puasa adalah pembentukan kesadaran spiritual dan pengendalian diri.

Aang menjelaskan, secara psikologis, muhasabah merupakan proses evaluasi diri yang penting dalam membentuk perubahan perilaku. Tanpa kesadaran atas kekurangan, seseorang akan sulit melakukan perbaikan yang berkelanjutan.


“Ramadan mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menilai diri sendiri. Sudahkah salat kita lebih khusyuk? Sudahkah lisan kita lebih terjaga? Itu yang harus kita tanyakan,” ungkapnya.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, tentang keutamaan puasa Ramadan yang dilaksanakan dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Menurut Aang, ampunan Allah terbuka luas, namun memerlukan kesungguhan dan niat yang tulus. Ia menilai, sering kali masyarakat lebih sibuk memperbaiki penampilan lahiriah dibanding membenahi batin.

“Kalau Ramadan hanya lewat tanpa perubahan, berarti kita belum menangkap esensinya. Perubahan itu justru harus terlihat setelah Ramadan,” tegasnya.

Ia menambahkan, Ramadan juga harus berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Kepedulian terhadap fakir miskin, mempererat silaturahmi, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan menjadi bagian dari implementasi nilai takwa.

Dengan demikian, kata dia, Ramadan bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga penguatan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.

“Jadikan Ramadan sebagai titik balik kehidupan. Bukan hanya berpuasa, tetapi bertakwa. Bukan hanya ritual, tetapi transformasi,” pungkasnya.(Apip/BK)