KUNINGAN, (BK).—
Pemandangan memprihatinkan terjadi di ruas jalan Sindangsari–Cijoholandeuh, Kabupaten Kuningan. Pada Selasa (24/3/2026), tumpukan sampah bukan lagi sekadar menumpuk di pinggir jalan, melainkan sudah meluber dan “menguasai” hampir setengah badan jalan.
Kondisi ini secara nyata mengganggu arus lalu lintas. Pengendara terpaksa bergantian melintas di sisa badan jalan yang masih bisa digunakan. Situasi tersebut tidak hanya memperlambat mobilitas, tetapi juga membuka potensi kecelakaan akibat penyempitan jalur.
Ironisnya, persoalan ini sudah dikeluhkan warga sejak beberapa hari sebelumnya. Namun hingga kini, tidak terlihat adanya penanganan konkret di lapangan. Sampah justru semakin menumpuk, menandakan adanya pembiaran yang berlangsung di ruang publik.
Salah seorang pengguna jalan, Dina, mengaku harus menutup kaca mobil karena tidak tahan dengan bau menyengat dari sampah.
“Saya sampai menutup kaca mobil karena baunya sangat menyengat. Ini sangat mengganggu, apalagi kalau ada anak kecil atau lansia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi jalan yang semakin menyempit akibat sampah yang meluber ke badan jalan.
“Jalannya jadi sempit, kendaraan harus gantian lewat. Kalau tidak hati-hati bisa bersenggolan,” katanya.
Tak hanya soal kenyamanan, ancaman kesehatan pun mulai nyata. Tumpukan sampah yang dibiarkan terbuka berpotensi menjadi sarang penyakit serta mengundang tikus dan lalat.
“Kalau dibiarkan terus, ini bisa jadi sumber penyakit. Harus segera ditangani,” tegas Dina.
Kondisi ini memunculkan sorotan keras terhadap kinerja pengelolaan sampah oleh pihak terkait. Pasalnya, lokasi penumpukan berada di jalur vital yang setiap hari dilalui masyarakat, namun terkesan luput dari perhatian.
Seorang warga lainnya yang enggan disebutkan namanya juga menyampaikan kekecewaannya.
“Ini bukan baru sekali terjadi. Kami sudah sering mengeluh, tapi tidak pernah ada tindakan cepat. Seolah-olah dibiarkan,” keluhnya.
Menurutnya, persoalan sampah di lokasi tersebut sudah berlangsung berulang dan belum mendapat solusi permanen.
“Kalau tidak segera diangkut, ya pasti menumpuk terus. Harusnya ada jadwal rutin, jangan nunggu parah dulu,” tambahnya.
Fakta bahwa keluhan warga tidak direspons cepat memperlihatkan lemahnya kepekaan terhadap persoalan dasar lingkungan. Padahal, dampak yang ditimbulkan sudah jelas: mengganggu aktivitas, merusak kenyamanan, dan mengancam keselamatan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan berlebihan jika publik menilai telah terjadi pembiaran terhadap persoalan yang seharusnya bisa ditangani dengan cepat.
Warga kini mendesak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera bertindak, bukan sekadar menunggu masalah membesar.
“Kami minta segera dibersihkan. Jangan sampai nunggu ada korban dulu baru bergerak,” kata warga tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, tidak terlihat adanya tindakan di lokasi. Sampah masih menutup sebagian badan jalan. Publik pun menunggu, apakah pemerintah akan hadir menyelesaikan persoalan, atau kembali membiarkan masalah ini menjadi bukti lemahnya tanggung jawab terhadap ruang publik. (Apip/BK)






