KUNINGAN, (BK),-
Apa yang diidamkan akhirnya
terkabulkan, kini SMA Islam Terpadu (IT) Manba’ul Huda berlokasi di Desa Sidaraja
Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan meresmikan penggunaan gedung baru
sekaligus mewisuda ratusan santri tahfidz quran.
Peresmial Madrasah Mu’allimin
Mu’allimat Manba’ul Huda Sidaraja, Haflah Akhirussanah dan wisuda tahfidz ke-2
berlangsung di komplek pondok pesantren setempat, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan
tersebut dihadiri lebih dari 600 orang, terdiri dari para santri, alumni, wali
santri, dewan guru, tokoh masyarakat serta undangan lainnya.
Kegiatan tersebut menjadi
ajang pembuktian atas capaian akademik dan keagamaan bagi para santri selama
satu tahun terakhir. Mereka yang diwisuda dari berbagai cabang tahfidz, mulai
dari Syair Syahadatain, Matan Jurmiyah, Hadits Arbain, Nadzam Alfiyah Ibnu
Malik, Nadzam Istiarah, hingga Tahfidz Juz ‘Amma. Wisuda kelulusan bagi santri
Kelas 6 juga turut digelar dalam rangkaian acara yang sama.
Sebelum prosesi wisuda, acara
diawali dengan peresmian gedung kelas baru SMA IT Manba’ul Huda yang ditandai
dengan pengguntingan pita secara
simbolis oleh sesepuh dan jajaran tokoh yayasan. Pembangunan gedung tersebut
menjadi salah satu langkah strategis madrasah dalam memperkuat sarana
pendidikan, khususnya bagi santri Muallimin Muallimat jenjang Sekolah Menengah
Atas (SMA).
Berkaitan dengan hal itu, Kepala
SMA IT Manba’ul Huda, Ato Sugiarto, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas
rampungnya pembangunan gedung baru tersebut. Keberadaan gedung tersebut merupakan bentuk komitmen sekolah dalam
memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
“Alhamdulillah, gedung kelas
baru ini telah rampung dan diresmikan. Hal ini adalah bentuk nyata upaya kami
dalam memberikan pelayanan terbaik kepada siswa dan guru. Kami berkomitmen
terus menjaga kualitas unggulan sekolah, baik di bidang keagamaan maupun
akademik,” ujar Ato.
Adapun prosesi wisuda tahfidz
ditandai dengan penyerahan sertifikat Tahfidz Mutun dan Tahfidz Juz ‘Amma
kepada para santri. Selain itu, panitia juga turut menghadirkan sesi uji
publik, yakni demonstrasi hafalan langsung di atas panggung sebagai pembuktian
kemampuan santri berprestasi. Setiap santri yang berhasil menjawab tantangan hafalan
dengan benar mendapat apresiasi langsung berupa hadiah dari pimpinan pondok.
Sejumlah santri tampil
sebagai wisudawan terbaik di masing-masing cabang, yakni; Septian Maulana (terbaik cabang Syahadatain),
Fardan Muttaqin (terbaik cabang Jurmiah), Teguh Harianto (terbaik cabang Hadits
Arbain), Suci Cahya Rahmadini (terbaik cabang Alfiyah), Rani Angelia (terbaik
cabang Istiarah), dan Qori Nurul Azkia (terbaik cabang Juz ‘Amma).
Dalam tausiyahnya, Sesepuh
Yayasan Manba’ul Huda, KH Asep Ubaidillah, S.Pd.I, menitipkan pesan mendalam
mengenai hakikat rezeki dan makna sejati pendidikan kepada para santri.
“Harta adalah tingkatan
rezeki yang paling rendah, kesehatan badan adalah tingkatan rezeki yang paling
tinggi, anak yang saleh/salehah adalah rezeki yang paling utama, dan
mendapatkan ridha Allah adalah kesempurnaan rezeki. Ijazah hanyalah tanda
kalian pernah belajar, namun hakikat pendidikan adalah saat ilmu membuat kalian
semakin tawadhu dan bermanfaat bagi masyarakat. Di mana pun nanti kalian
berkiprah, jangan pernah malu mengaku sebagai santri,” pintanya.
Hal senada disampikan Ketua
Yayasan Manba’ul Huda, K.H. Irfan Hilmi, S.Pd.I.. Ia berpesan agar santri tidak
menyia-nyiakan empat hal penting dalam hidup. Antara lain; perkara yang tidak
boleh disia-siakan oleh santri: orang tuamu, karena mereka surgamu; waktumu,
karena itu umurmu; cita-citamu, karena itu masa depanmu; dan kesehatanmu,
karena itu modal berhargamu. Kita mendidik santri di sini agar menjadi qurratu
‘ayun atau penyejuk hati bagi orang tuanya, bukan menjadi musuh atau fitnah.
Sementara, Direktur
Mu’allimin Mu’allimat, Ny. Hj. Nina Samrotul Fuadah, S.Sos., M.H.I., menekankan
makna kelulusan yang bertepatan dengan momentum tahun baru Hijriah ini harus menjadi ibrah untuk berhijrah. Hijrah
bukan sekadar pindah kelas, tapi menetapkan arah tujuan hidup. Apa pun profesi
kalian kelak, pejabat, guru, dokter, atau pebisnis, tujuannya harus satu:
memberikan manfaat bagi manusia dan meraih rida Allah.
Suasana haru turut
menyelimuti penghujung acara, terutama saat siswi Kelas 3 putri mempersembahkan
lagu perpisahan yang membuat banyak wali santri dan santri tak kuasa menahan
air mata. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan pencak silat Pagar
Nusa dari unit Tri Sukma Jati, pembagian rapor, pengumuman juara umum, serta
sesi foto bersama per kelas.
Dengan bertambahnya sarana
fisik dan terus berlanjutnya tradisi wisuda tahfidz setiap tahun, Madrasah
Mu’allimin Mu’allimat Manba’ul Huda menegaskan komitmennya mempertahankan
kurikulum integratif. Yakni; perpaduan penuh antara ilmu agama melalui kajian
kitab kuning dengan ilmu umum sesuai kurikulum nasional. Hal ini demi
melahirkan generasi yang matang secara spiritual maupun intelektual, sejalan
dengan motto Haflah yang diusung tahun ini, “Lulus Berkah, Melangkah Dakwah.” (HEM/BK)