KUNINGAN, (BK).-
Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui
Diskatan menyalurkan bantuan pangan berdasarkan hasil analisis Sistem
Peringatan Dini Kerawanan Pangan dan Gizi (SKPG) pada masyarakat di berlangsung
di Desa Sangkanurip Kecamatan Cigandamekar, Kamis (30/7/2026).
Program intervensi tersebut merupakan
upaya pemerintah daerah dalam mencegah potensi kerawanan pangan dan gizi sejak
dini. Melalui SKPG, pemerintah dapat mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan
perhatian sehingga bantuan yang diberikan menjadi lebih cepat, tepat sasaran,
dan efektif. Sebanyak 100 paket bantuan pangan disalurkan kepada keluarga
penerima manfaat, terdiri atas 51 paket di Desa Sangkanurip dan 49 paket di
Desa Sangkanmulya. Setiap paket berisi beras 5 kilogram, telur 1 kilogram,
daging ayam 1 kilogram, serta dua kemasan susu UHT sebagai sumber pangan
bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan
Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., mengatakan bahwa SKPG
menjadi instrumen strategis dalam mendukung pengambilan kebijakan di bidang
ketahanan pangan karena mampu memberikan gambaran kondisi pangan masyarakat
secara lebih akurat.
"Pemerintah tidak boleh menunggu
sampai masyarakat mengalami kerawanan pangan. Melalui SKPG, kita dapat
mendeteksi potensi kerawanan sejak dini sehingga intervensi yang dilakukan
menjadi lebih cepat, tepat sasaran, dan berdampak nyata. Bantuan ini bukan
sekadar penyaluran bahan pangan, melainkan bentuk kehadiran pemerintah dalam
melindungi masyarakat," ujar Wahyu
Menurutnya, penyaluran bantuan pangan
merupakan bagian dari strategi mitigasi untuk menjaga ketahanan pangan
sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama kelompok rentan. Ia
mengajak masyarakat membangun kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga
melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan.
"Ketahanan pangan tidak hanya
dibangun dari sawah, tetapi juga dimulai dari rumah. Pekarangan dapat menjadi
sumber pangan keluarga melalui budidaya sayuran, buah-buahan, tanaman bumbu,
ternak maupun ikan. Jika setiap keluarga mampu memenuhi sebagian kebutuhan
pangannya sendiri, maka ketahanan pangan daerah akan semakin kuat,"
katanya.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dr. Dian
Rachmat Yanuar, M.Si., menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu
fondasi utama pembangunan daerah. Karena itu, setiap program harus disusun
berdasarkan data yang akurat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Pemerintah
harus hadir sebelum masyarakat menghadapi kesulitan. Itulah makna penting SKPG
sebagai sistem peringatan dini yang membantu pemerintah mengambil langkah cepat
dan tepat dalam mencegah kerawanan pangan. Kebijakan yang berbasis data akan
menghasilkan intervensi yang lebih efektif, tepat sasaran, dan berkeadilan.
“Keberhasilan pembangunan ketahanan
pangan tidak hanya diukur dari tingginya produksi pertanian, tetapi juga dari
kemampuan pemerintah menjamin seluruh masyarakat memperoleh akses terhadap
pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Pemerintah Kabupaten Kuningan akan terus
memperkuat sinergi antara pemerintah, petani, pemerintah desa, akademisi,
pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi seluruh
elemen masyarakat, saya optimistis Kuningan mampu mewujudkan daerah yang
mandiri pangan, masyarakatnya sehat, dan kesejahteraannya terus
meningkat," pungkas H Dian.
Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten
Kuningan berkomitmen memperkuat berbagai program strategis di bidang ketahanan
pangan, mulai dari peningkatan produksi pertanian, pemberdayaan masyarakat,
pengembangan pangan berbasis keluarga, hingga intervensi berbasis hasil
analisis SKPG sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pangan daerah. Melalui
program ini, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap bantuan pangan tidak hanya
mampu meringankan beban masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat
ketahanan pangan keluarga serta mendorong tumbuhnya kemandirian pangan yang
berkelanjutan. (HEM/BK)