KUNINGAN, (BK).-
Sarfana internet kini menjadi kebutuhan
infrastruktur kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari, namun Bupati Kuningan, Dr
H Dian Rachmat Yanuar Msi, mengingatkan agar ISP tidak hanya berorietnasi pada
peroleh jumlah pelanggan dan keuntungan bisnis.
“Namun idealnya turut membantu dalam
membangun pertumbuhan serta peningkatan ekonomi masyarakat. Sebab internet saat
ini cukup berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur kehidupan
masyarakat. Perannya menjangkau berbagai sektor, dari mulai pemerintahan, pendidikan, Usaha Mikro
Kecil Masyarakat (UMKM), pertanian dan
aspek kehidupan lainnya,” demikian diungkapkan Bupati H Dian, saat menghadiri
Festival Pantura IX Paguyuban ISP SUCIAYUMAJAKUNING
(Subang-Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan) Volume 3 yang digelar Paguyuban
ISP Suciayumajakuning di kawasan wisata Ipukan Highland, Desa Cisantana
Kecamatan Cigugur, Minggu, (30/8/2026).
Dia mencontohkan, pelayanan pemerintahan
yang kini semakin bergantung pada teknologi digital. Begitu pula siswa yang
membutuhkan internet untuk belajar, pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha,
serta petani yang membutuhkan informasi harga dan teknologi pertanian. Oleh karena
itu, ia menilai keberadaan para pelaku ISP memiliki peran strategis dalam
pembangunan daerah. Mereka usaha jasa komunikasi tersebut, diminta pertumbuhan industri ISP tidak hanya
dilihat dari sisi kuantitas pelanggan, juga harus dibarengi peningkatan
kualitas layanan, inovasi dan kontribusi sosial ekonomi.
“Jangan tumbuh hanya dari sisi kuantitas
pelanggan saja, tapi juga inovasi kualitas dan kontribusi sosial ekonominya. Bisnis
internet memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar transaksi penyediaan
bandwidth. Akses internet memberikan kesempatan bagi masyarakat, khususnya
anak-anak di desa, pelaku UMKM hingga petani untuk berkembang dan terhubung
dengan berbagai peluang Dalam hal ini, bapak/ibu tidak hanya menjual bandwidth,
namun membuka kesempatan agar pelanggan lebih produktif,” pinta bupati.
Misalnya, berupa akses pendidikan
bagi anak-anak desa, peluang pengembangan usaha bagi UMKM, hingga akses
informasi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas. Ia meminta pemerataan
akses internet terus diperkuat hingga wilayah pedesaan. Kabupaten Kuningan
memiliki 376 desa dan kelurahan. Dian berharap transformasi digital tidak hanya
terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat di
pelosok.
“Jangan sampai transformasi digitalnya
hanya terpusat di pusat kota saja. Saya juga titip di pedesaan-pedesaan,”
katanya.
Dalam kesempatan tersebut, bupati
menyampaikan gagasan untuk menjadikan Paguyuban ISP Suciayu Majakuning sebagai
salah satu kekuatan dalam membangun ekosistem ekonomi digital di Jawa Barat
bagian timur. Melihat forum yang mempertemukan ISP, mikro operator, reseller,
vendor dan pelaku usaha lainnya sebagai bentuk kolaborasi yang penting. Dalam
hal ini, tidak ada pelaku usaha yang dapat berkembang secara optimal jika
berjalan sendiri.
“Jika diibaratkan kolaborasi sebagai
bandwidth yang memiliki nilai besar karena mampu menghubungkan berbagai
peluang. Kalau bandwidth ini internet bisa menghubungkan antar perangkat, maka
kolaborasi ini akan menghubungkan antar peluang dan kesempatan. Diharapkan, pertemuan
tersebut tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi menghasilkan kerja sama dan
peluang baru yang memberikan manfaat bagi Kabupaten Kuningan,” pinta bupati.
Ketua Badan Pengurus Wilayah Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jawa Barat, Geary M. Fherza,
menyebut Paguyuban ISP Suciayumajakuning sebagai salah satu paguyuban paling
aktif di Jawa Barat. Ia mengatakan APJII Jawa Barat membagi wilayah kerja
menjadi enam kawasan, yakni Bogor-Depok, Bekasi Raya, Bandung Raya, Priangan
Timur, Cianjur-Sukabumi, dan Suciayumajakuning. Dari enam wilayah tersebut,
menurut dia, Suciayumajakuning menjadi wilayah yang paling aktif dalam
menggelar kegiatan.
“Saat ini terdapat sekitar 288 ISP yang
berdomisili di Jawa Barat. Sementara secara nasional terdapat sekitar 1.600 ISP
yang beroperasi. Keberadaan paguyuban salah satunya bertujuan memperkuat daya
saing ISP lokal agar mampu bersaing dengan perusahaan besar. Sedangkan ISP
lokal memiliki peran penting dalam menjaga agar aktivitas ekonomi digital di
daerah juga memberikan manfaat bagi daerah tersebut,” tutur Geary.
Dijelaskannya, ia menyinggung persoalan
reseller ISP serta pentingnya kepatuhan terhadap regulasi. Membedakan reseller
legal yang berada di bawah ISP dengan praktik reseller ilegal yang tidak sesuai
ketentuan. Kepatuhan terhadap regulasi diperlukan untuk menciptakan industri
yang sehat sekaligus mencegah potensi kebocoran penerimaan negara. Dalam hal
ini, ia mengapresiasi komitmen para CEO ISP Suciayu Majakuning yang telah
menyatakan kesiapan untuk menjalankan usaha sesuai aturan.
Sementara itu, Ketua Paguyuban ISP
Suciayu Majakuning Deny Restu Ginanjar, mengatakan saat ini terdapat 40 ISP
yang tergabung dalam paguyuban tersebut. Anggotanya tersebar di Kabupaten
Subang, Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, Majalengka, serta Kuningan.
Namun khusus di Kabupaten Kuningan, terdapat lima ISP lokal yang berdomisili di
daerah tersebut. Kegiatan tersebut menjadi momentum mempertemukan para pelaku
ISP dengan vendor penyedia sarana dan infrastruktur, pelaku usaha serta
stakeholder lainnya. Sementara, Pengurus HIPMI dari Kota Cirebon juga turut
hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, hadir jajaran
pengurus dan anggota Paguyuban ISP Suciayumajakuning yang menaungi 40
perusahaan penyedia jasa internet (ISP) dari wilayah Cirebon, Indramayu,
Majalengka, Kuningan, dan Subang. Selain para CEO ISP beserta keluarga,
kegiatan juga dihadiri Ketua Pengwil APJII Jawa Barat Geary M. Fherza, Ketua
Paguyuban ISP Suciayumajakuning Denny Restu Ginanjar, serta perwakilan HIPMI
Kota Cirebon.
Selain dihadiri Bupati H Dian, juga Kadiskominfo Kab. Kuningan, H Ucu Suryana,
diwakili Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten
Kuningan Cece Hendra Krissianto, dan Kepala Bidang Infrastruktur Teknologi
Informasi dan Komunikasi Heri Juheri. (HEM/BK)