KUNINGAN, (BK),-
Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) PC
Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar agenda organisasi, namun merupakan forum
pertanggungjawaban moral kita kepada jam'iyah, umat, para ulama pendahulu, dan
akhirnya terhadap Allah SWT.
“Oleh sebab itu, jangan kita memandang
Musykercab ini hanya sebagai kegiatan rutin yang harus dilaksanakan karena
ketentuan organisasi. Namun kita harus melihat forum ini sebagai momentum untuk
berhenti sejenak dan melakukan muhasabah. Termasuk melihat perjalanan yang
telah kita tempuh, mengukur apa yang sempat dikerjakan, dan bertanya dengan
jujur kepada diri masing-masing,” demikian diungkapkan Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Kuningan, KH
Asep Ubaidillah, dalam Musyakercab ke-3 PCNU, berlangsung di kawasan wisata
Ipukan Highland Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, Minggu (18/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut hadir, Wakil
Bupati Kuningan, Tuti Andriani, unsur Forkompimda dan Kepala Kemenag. Termasuk Mustasyar,
Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kuningan. Selain
itu, ketua dan jajaran pengurus MWCNU
se-Kabupaten Kuningan, ketua dan Pengurus Lembaga, Badan Otonom (Banom) NU
serta undangan lainnya. Tidak ketinggalam seluruh peserta dan panitian
pelaksana Musyawarah Kerja Cabang PC NU tahun 2026.
Dia bertanya, sudah sejauh mana NU
memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat Kuningan? Pertanyaan itu penting,
sebab dalam berorganisasi, tidak boleh hanya sibuk mempertanyakan apa yang
belum diberikan jam'iyah kepada kita. Akan tetapi kita harus lebih dahulu
bertanya; apa yang sudah kita berikan kepada jam'iyah? Apa saja yang sudah kita
lakukan untuk membesarkan NU? Apa yang sudah kita lakukan untuk membina warga
NU? Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga warisan para masyayikh, dan apa
yang kelak dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT? Itulah sejumlah
pertanyaan sebagai tantangan yang harus kita jawab.
“Kita semua memahami bahwa Nahdlatul
Ulama bukan organisasi yang lahir dari ruang kosong. Namun NU lahir dari rahim
perjuangan para ulama. NU dibangun dengan ilmu, ditegakkan dengan keikhlasan. Dipertahankan
dengan pengorbanan dan NU diwariskan kepada kita dengan sebuah amanah yang
sangat besar. Maka dari itu, ketika hari ini kita menerima amanah sebagai
pengurus NU, jangan pernah kita memahami jabatan sebagai kehormatan semata.
Sebab jabatan itu adalah amanah. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam
jam'iyah, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul,” tutur KH
Ubaidillah..
Ditambahkannya, mari kita jaga marwah kepengurusan NU, jangan
sampai jabatan di dalam kepengurusan menjadi sebab tumbuhnya kesombongan. Jangan
sampai amanah berubah menjadi kepentingan pribadi. Jangan sampai perbedaan
pandangan di antara kita menghilangkan adab, ukhuwah, dan rasa hormat kepada
sesama. Sebab kita semua datang ke NU bukan untuk menjadi paling besar, melainkan untuk mengabdi kepada
sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Yaitu agama, umat, dan
kemaslahatan masyarakat.
Adapun salah satu kekuatan Nahdlatul Ulama adalah tradisi musyawarah. Dalam tradisi pesantren, perbedaan pendapat bukan alasan untuk bermusuhan. Para ulama telah mengajarkan kepada kita bagaimana menyikapi perbedaan dengan ilmu dan adab. Oleh karena itu, dalam Musykercab ini, silahkan berbeda pendapat, untuk menyampaikan kritik, gagasan dan menyampaikan evaluasi. Akan tetapi semuanya harus berada dalam satu bingkai: adab, ukhuwah, dan kepentingan jam'iyah.
“Jangan sampai kepentingan pribadi lebih
besar daripada kepentingan NU. Kepentingan kelompok lebih besar daripada
kepentingan umat dan perbedaan strategi
jangan sampai membuat lupa bahwa
sesungguhnya kita berada dalam satu kapal yang sama. Kalau kapal ini kita
lubangi bersama, maka yang tenggelam bukan hanya satu orang. Akan tetapi kita
semua akan ikut tenggelam. Oleh sebab itu, mari kita rawat NU dengan penuh kebersamaan,” pintanya.
Ia juga menyampaikan satu hal yang
menurutnya dianggap penting. Yakni; NU
jangan hanya besar secara struktur, tetapi harus besar secara manfaat. Kita
memang membutuhkan struktur organisasi yang kuat, membutuhkan kepengurusan lebih
tertib dan administrasi secara baik. Akan tetapi itu semua hanyalah instrumen,
tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat. Kalau NU memiliki struktur sampai
tingkat ranting, tetapi masyarakat tidak merasakan manfaatnya, maka kita perlu
melakukan evaluasi. Jika NU memiliki
banyak lembaga, tetapi tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat, maka kita
harus melakukan pembenahan.
“Kalau kegiatan NU banyak, tetapi tidak
melahirkan kader yang kuat, maka kita harus bertanya kembali apakah arah
gerakan kita sudah tepat. Maka ukuran keberhasilan kita bukan sekadar berapa
banyak kegiatan yang telah kita selenggarakan, tetapi berapa banyak persoalan
umat yang berhasil kita bantu; berapa banyak kader yang berhasil kita lahirkan;
berapa banyak generasi muda yang berhasil kita arahkan dan berapa banyak warga
yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kehadiran NU. Itulah ukuran khidmah,”
katanya.
Ditambahkannya, kita hidup pada zaman
yang berbeda dengan zaman para pendiri NU, termasuk tantangannya juga berbeda. Anak-anak
muda kita menghadapi dunia digital yang sangat terbuka sehingga untuk
memperoleh informasi datang tanpa batas. Paham keagamaan datang dari berbagai
arah dan nilai-nilai kehidupan berubah begitu cepat. Karenanya, NU tidak boleh
hanya sibuk mempertahankan apa yang sudah ada, tetapi harus mampu mewariskan
nilai-nilai Aswaja dengan cara yang dapat dipahami oleh generasi zaman
sekarang.
Dalam hal ini, kita harus menjaga
tradisi, tetapi jangan kehilangan inovasi. Kita harus mempertahankan prinsip,
tetapi tidak boleh gagap menghadapi perubahan. Kita harus teguh dalam aqidah,
kokoh dalam syariat, santun dalam dakwah, dan terbuka dalam menghadapi
perkembangan zaman. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama, menjaga warisan ulama sekaligus menyiapkan
masa depan NU. Diharapkan, forum ini tidak berhenti pada penyusunan daftar
program kerja, mari kita rumuskan prioritas perjuangan.
Dalam hal ini, katanya, kita perkuat
kaderisasi, hidupkan MWCNU dan Ranting
NU. Kita berikan ruang yang lebih besar kepada generasi muda, perkuat lembaga pendidikan dan pesantren dan dorong
kemandirian ekonomi warga NU. Untuk itu, kita tingkatkan pelayanan sosial dan tidak kalah penting, perkuat hubungan antara
ulama, pengurus, badan otonom, lembaga, pesantren, serta seluruh elemen masyarakat.
Semuanya harus bergerak dalam satu irama.
“Syuriyah memberikan arah dan tuntunan. Tanfidziyah
menggerakkan roda organisasi. Lembaga melaksanakan bidang pengabdian. Badan
Otonom menyiapkan dan menggerakkan kader dan seluruh warga NU menjadi kekuatan
jamaah yang sesungguhnya. Jika semuanya
berjalan dalam satu kesatuan, insya Allah NU Kabupaten Kuningan akan semakin
kuat. Ada satu pesan titipkan kepada seluruh pengurus antara lain; jangan
jadikan NU sebagai tempat mencari pengaruh. Jadikan NU sebagai tempat menanam
amal. Jangan terlalu menghitung apa yang kita dapatkan dari NU. Hitunglah apa
yang telah kita tanam untuk NU, sebab dalam khidmah, tidak semua kebaikan harus
mendapatkan penghargaan manusia. Ada amal yang cukup diketahui oleh Allah, pengabdian yang tidak tercatat dalam berita
dan ada perjuangan yang tidak disebut dalam forum. Akan tetapi semuanya
tercatat di sisi Allah SWT,” paparnya.
Untuk itu lanjut ia, mari kita luruskan
niat, berkhidmah karena Allah. Kita menjaga NU karena amanah ulama. Kita
bergerak karena tanggung jawab kepada umat. Kalau niat ini kita pegang, Insya
Allah perbedaan tidak akan terjadi pecah belah. Kritik tidak akan melemahkan
dan tantangan tidak akan menghentikan langkah kita. Ia berharap Musykercab ini hendaknya
melahirkan keputusan yang bukan hanya baik di atas kertas, tetapi benar-benar
dapat dilaksanakan. Jangan terlalu banyak program kalau tenaga kita terbatas. Jangan
terlalu tinggi target kalau tidak disertai kesungguhan.
Akan tetapi jangan pula takut menetapkan
cita-cita besar selama kita mau bekerja bersama. Mari kita pilih program yang
benar-benar penting untuk dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Lakukana evaluasi
secara berkala dan pertanggungjawabkan dengan jujur. Karena NU tidak
membutuhkan pengurus yang hanya pandai berbicara tentang perjuangan. NU
membutuhkan pengurus yang bersedia menjalankan perjuangan. Kita tidak
membutuhkan banyak orang yang ingin disebut sebagai pengurus. Namun membutuhkan orang-orang yang siap menjadi
pelayan umat.
“Saya atas nama Syuriyah PCNU Kabupaten
Kuningan, mengajak seluruh jajaran pengurus dan warga Nahdlatul Ulama: Mari
kita rawat NU dengan ilmu, besarkan NU dengan kebersamaan, dan jaga NU dengan
akhlak. Mari kita gerakkan NU dengan kerja nyata, niatkan seluruh pengabdian
ini sebagai bagian dari khidmah kepada agama, kepada bangsa, kepada masyarakat,
dan kepada para ulama yang telah mewariskan perjuangan ini kepada kita,”
pungkas KH Ubaidillah.
Berkaitan dengan hal itu, Ketua Panitia
Muskercab PCN U Kab. Kuningan, Kiyai
Ending, Musykercab NU merupakan musyawarah tertinggi wetelahnya Konfercab NU
dilevel PCNU Kabupaten. Sebuah kegiatan paling pertama setelah Konfercab adalah
Muskercab yang diharapkan kelak mampu mengoperasionalkan secara rinci
butiran-butiran pemikiran hasil Konfercab untuk melahirkan kegiatan apa saja
yang akan di lakukan di setahun mendatang di samping evaluasi terhadap setahun
yang sudah dilakukan. Tentu saja
berbagai tantangan, rintangan, bahkan cobaan yang tidak mustahil pula
kesuksesan selama berkhidmah setahun menjadi aroma tersendiri dalam sebuah
musyawarah kerja cabang.
Oleh karena itu, Muskercab tahun ini mengusung
tema; Menguatkan Khidmah Nahdlatul
Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian
Organisasi dan Kemaslahatan Ummat.
Muskercab kali ini diikuti oleh 150
peserta, terdiri dari Pengurus Cabang NU Kabupaten Kuningan sebanyak 32 orang,
perwakilan MWC sekabupaten Kuningan sebanyak 64 orang, perwakilan Lembaga NU
sebanyak 36 orang, dan perwakilan Badan Otonom NU sebanyak 16 orang. Dalam hal
ini Muskercab dihadiri oleh para tamu undangan sebanyak 22 orang. (HEM/BK)




