Minggu, 10/18/2026 10:25:00 PM WIB
HeadlineMuslim

Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) PC Nahdlatul Ulama (NU) Merupakan Tanggungjawab Moral

 

Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) Ke-3 PC Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kuningan berjalan engan lancar, aman dan tertib berlangsung di kawasan wisata Ipukan Highland Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, Minggu (18/10/2026).  



KUNINGAN, (BK),-

Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) PC Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar agenda organisasi, namun merupakan forum pertanggungjawaban moral kita kepada jam'iyah, umat, para ulama pendahulu, dan akhirnya terhadap Allah SWT.

 

“Oleh sebab itu, jangan kita memandang Musykercab ini hanya sebagai kegiatan rutin yang harus dilaksanakan karena ketentuan organisasi. Namun kita harus melihat forum ini sebagai momentum untuk berhenti sejenak dan melakukan muhasabah. Termasuk melihat perjalanan yang telah kita tempuh, mengukur apa yang sempat dikerjakan, dan bertanya dengan jujur kepada diri masing-masing,” demikian diungkapkan  Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Kuningan, KH Asep Ubaidillah, dalam Musyakercab ke-3 PCNU, berlangsung di kawasan wisata Ipukan Highland Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, Minggu (18/10/2026).

 

Dalam kesempatan tersebut hadir, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, unsur Forkompimda dan Kepala Kemenag. Termasuk  Mustasyar,  Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kuningan. Selain itu,  ketua dan jajaran pengurus MWCNU se-Kabupaten Kuningan, ketua dan Pengurus Lembaga, Badan Otonom (Banom) NU serta undangan lainnya. Tidak ketinggalam seluruh peserta dan panitian pelaksana Musyawarah Kerja Cabang PC NU tahun 2026.

 

Dia bertanya, sudah sejauh mana NU memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat Kuningan? Pertanyaan itu penting, sebab dalam berorganisasi, tidak boleh hanya sibuk mempertanyakan apa yang belum diberikan jam'iyah kepada kita. Akan tetapi kita harus lebih dahulu bertanya; apa yang sudah kita berikan kepada jam'iyah? Apa saja yang sudah kita lakukan untuk membesarkan NU? Apa yang sudah kita lakukan untuk membina warga NU? Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga warisan para masyayikh, dan apa yang kelak dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT? Itulah sejumlah pertanyaan sebagai tantangan yang harus kita jawab.


“Kita semua memahami bahwa Nahdlatul Ulama bukan organisasi yang lahir dari ruang kosong. Namun NU lahir dari rahim perjuangan para ulama. NU dibangun dengan ilmu, ditegakkan dengan keikhlasan. Dipertahankan dengan pengorbanan dan NU diwariskan kepada kita dengan sebuah amanah yang sangat besar. Maka dari itu, ketika hari ini kita menerima amanah sebagai pengurus NU, jangan pernah kita memahami jabatan sebagai kehormatan semata. Sebab jabatan itu adalah amanah. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam jam'iyah, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul,” tutur KH Ubaidillah..

 

Ditambahkannya,  mari kita jaga marwah kepengurusan NU, jangan sampai jabatan di dalam kepengurusan menjadi sebab tumbuhnya kesombongan. Jangan sampai amanah berubah menjadi kepentingan pribadi. Jangan sampai perbedaan pandangan di antara kita menghilangkan adab, ukhuwah, dan rasa hormat kepada sesama. Sebab kita semua datang ke NU bukan untuk menjadi  paling besar, melainkan untuk mengabdi kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Yaitu agama, umat, dan kemaslahatan masyarakat.


 



Adapun salah satu kekuatan Nahdlatul Ulama adalah tradisi musyawarah. Dalam tradisi pesantren, perbedaan pendapat bukan alasan untuk bermusuhan. Para ulama telah mengajarkan kepada kita bagaimana menyikapi perbedaan dengan ilmu dan adab. Oleh karena itu, dalam Musykercab ini, silahkan berbeda pendapat,  untuk menyampaikan kritik,  gagasan dan menyampaikan evaluasi. Akan tetapi semuanya harus berada dalam satu bingkai: adab, ukhuwah, dan kepentingan jam'iyah.

 

“Jangan sampai kepentingan pribadi lebih besar daripada kepentingan NU. Kepentingan kelompok lebih besar daripada kepentingan umat dan   perbedaan strategi jangan sampai membuat  lupa bahwa sesungguhnya kita berada dalam satu kapal yang sama. Kalau kapal ini kita lubangi bersama, maka yang tenggelam bukan hanya satu orang. Akan tetapi kita semua akan ikut tenggelam. Oleh sebab itu, mari kita rawat NU dengan penuh  kebersamaan,” pintanya.

 

Ia juga menyampaikan satu hal yang menurutnya dianggap  penting. Yakni; NU jangan hanya besar secara struktur, tetapi harus besar secara manfaat. Kita memang membutuhkan struktur organisasi yang kuat, membutuhkan kepengurusan lebih tertib dan administrasi secara baik. Akan tetapi itu semua hanyalah instrumen, tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat. Kalau NU memiliki struktur sampai tingkat ranting, tetapi masyarakat tidak merasakan manfaatnya, maka kita perlu melakukan evaluasi. Jika  NU memiliki banyak lembaga, tetapi tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat, maka kita harus melakukan pembenahan.

 

“Kalau kegiatan NU banyak, tetapi tidak melahirkan kader yang kuat, maka kita harus bertanya kembali apakah arah gerakan kita sudah tepat. Maka ukuran keberhasilan kita bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang telah kita selenggarakan, tetapi berapa banyak persoalan umat yang berhasil kita bantu; berapa banyak kader yang berhasil kita lahirkan; berapa banyak generasi muda yang berhasil kita arahkan dan berapa banyak warga yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kehadiran NU. Itulah ukuran khidmah,” katanya.

 

Ditambahkannya, kita hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman para pendiri NU, termasuk tantangannya juga berbeda. Anak-anak muda kita menghadapi dunia digital yang sangat terbuka sehingga untuk memperoleh informasi datang tanpa batas. Paham keagamaan datang dari berbagai arah dan nilai-nilai kehidupan berubah begitu cepat. Karenanya, NU tidak boleh hanya sibuk mempertahankan apa yang sudah ada, tetapi harus mampu mewariskan nilai-nilai Aswaja dengan cara yang dapat dipahami oleh generasi zaman sekarang.

 

Dalam hal ini, kita harus menjaga tradisi, tetapi jangan kehilangan inovasi. Kita harus mempertahankan prinsip, tetapi tidak boleh gagap menghadapi perubahan. Kita harus teguh dalam aqidah, kokoh dalam syariat, santun dalam dakwah, dan terbuka dalam menghadapi perkembangan zaman. Hal ini merupakan  tanggung jawab kita bersama,  menjaga warisan ulama sekaligus menyiapkan masa depan NU. Diharapkan, forum ini tidak berhenti pada penyusunan daftar program kerja, mari kita rumuskan prioritas perjuangan.

 

Dalam hal ini, katanya, kita perkuat kaderisasi,  hidupkan MWCNU dan Ranting NU. Kita berikan ruang yang lebih besar kepada generasi muda,  perkuat lembaga pendidikan dan pesantren dan dorong kemandirian ekonomi warga NU. Untuk itu, kita tingkatkan pelayanan sosial dan  tidak kalah penting, perkuat hubungan antara ulama, pengurus, badan otonom, lembaga, pesantren, serta seluruh elemen masyarakat. Semuanya harus bergerak dalam satu irama.

 

“Syuriyah memberikan arah dan tuntunan. Tanfidziyah menggerakkan roda organisasi. Lembaga melaksanakan bidang pengabdian. Badan Otonom menyiapkan dan menggerakkan kader dan seluruh warga NU menjadi kekuatan jamaah yang sesungguhnya. Jika  semuanya berjalan dalam satu kesatuan, insya Allah NU Kabupaten Kuningan akan semakin kuat. Ada satu pesan titipkan kepada seluruh pengurus antara lain; jangan jadikan NU sebagai tempat mencari pengaruh. Jadikan NU sebagai tempat menanam amal. Jangan terlalu menghitung apa yang kita dapatkan dari NU. Hitunglah apa yang telah kita tanam untuk NU, sebab  dalam khidmah, tidak semua kebaikan harus mendapatkan penghargaan manusia. Ada amal yang cukup diketahui oleh Allah,  pengabdian yang tidak tercatat dalam berita dan ada perjuangan yang tidak disebut dalam forum. Akan tetapi semuanya tercatat di sisi Allah SWT,” paparnya.

 

Untuk itu lanjut ia, mari kita luruskan niat, berkhidmah karena Allah. Kita menjaga NU karena amanah ulama. Kita bergerak karena tanggung jawab kepada umat. Kalau niat ini kita pegang, Insya Allah perbedaan tidak akan terjadi pecah belah. Kritik tidak akan melemahkan dan tantangan tidak akan menghentikan langkah kita. Ia berharap Musykercab ini hendaknya melahirkan keputusan yang bukan hanya baik di atas kertas, tetapi benar-benar dapat dilaksanakan. Jangan terlalu banyak program kalau tenaga kita terbatas. Jangan terlalu tinggi target kalau tidak disertai kesungguhan.



Akan tetapi jangan pula takut menetapkan cita-cita besar selama kita mau bekerja bersama. Mari kita pilih program yang benar-benar penting untuk dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Lakukana evaluasi secara berkala dan pertanggungjawabkan dengan jujur. Karena NU tidak membutuhkan pengurus yang hanya pandai berbicara tentang perjuangan. NU membutuhkan pengurus yang bersedia menjalankan perjuangan. Kita tidak membutuhkan banyak orang yang ingin disebut sebagai pengurus. Namun  membutuhkan orang-orang yang siap menjadi pelayan umat.

 

“Saya atas nama Syuriyah PCNU Kabupaten Kuningan, mengajak seluruh jajaran pengurus dan warga Nahdlatul Ulama: Mari kita rawat NU dengan ilmu, besarkan NU dengan kebersamaan, dan jaga NU dengan akhlak. Mari kita gerakkan NU dengan kerja nyata, niatkan seluruh pengabdian ini sebagai bagian dari khidmah kepada agama, kepada bangsa, kepada masyarakat, dan kepada para ulama yang telah mewariskan perjuangan ini kepada kita,” pungkas KH Ubaidillah.

 

Berkaitan dengan hal itu, Ketua Panitia Muskercab PCN U Kab. Kuningan,  Kiyai Ending, Musykercab NU merupakan musyawarah tertinggi wetelahnya Konfercab NU dilevel PCNU Kabupaten. Sebuah kegiatan paling pertama setelah Konfercab adalah Muskercab yang diharapkan kelak mampu mengoperasionalkan secara rinci butiran-butiran pemikiran hasil Konfercab untuk melahirkan kegiatan apa saja yang akan di lakukan di setahun mendatang di samping evaluasi terhadap setahun yang sudah dilakukan.   Tentu saja berbagai tantangan, rintangan, bahkan cobaan yang tidak mustahil pula kesuksesan selama berkhidmah setahun menjadi aroma tersendiri dalam sebuah musyawarah kerja cabang.

 

Oleh karena itu, Muskercab tahun ini mengusung tema;  Menguatkan Khidmah Nahdlatul Ulama  Untuk Mewujudkan Kemandirian Organisasi dan Kemaslahatan Ummat.  

 

Muskercab kali ini diikuti oleh 150 peserta, terdiri dari Pengurus Cabang NU Kabupaten Kuningan sebanyak 32 orang, perwakilan MWC sekabupaten Kuningan sebanyak 64 orang, perwakilan Lembaga NU sebanyak 36 orang, dan perwakilan Badan Otonom NU sebanyak 16 orang. Dalam hal ini Muskercab dihadiri oleh para tamu undangan sebanyak 22 orang. (HEM/BK)