Kamis, 10/29/2026 08:11:00 AM WIB
HeadlinePendidikan

Refleksi Hari Santri Nasional (HSN) 2026 Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas Tahun 2045

 

Sekeretaris PCNU Kabupaten Kuningan, Dr H Iim Suryahim SSi, MPd.I 




KUNINGAN, (BK).-

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi untuk menguatkan kembali peran strategis santri, pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menjaga keutuhan bangsa menuju Indonesia Emas tahun 2045.

 

Selain itu, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta mengawal perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan bermartabat. Puncak acara peringatan HSN di Kabupaten Kuningan melalui tabligh akbar bersama KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq menjadi ruang penting untuk menyegarkan semangat keagamaan, kebangsaan, dan pengabdian sosial. Kehadiran para santri, ulama, kiai, ibu nyai, pengurus NU, serta masyarakat menunjukkan bahwa tradisi pesantren tetap menjadi kekuatan moral yang hidup di tengah dinamika zaman,” komentar Sekretaris PCNU Kab. Kuningan, H Iim Suryahim, Rabu (28/10/2026).

 

Ditambahkan H Iim, sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para ulama dan santri. Pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, penanaman cinta tanah air, dan penguatan kesadaran untuk membela kemanusiaan serta menjaga persatuan bangsa. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak sejarah yang menegaskan kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut harus terus diwariskan, bukan hanya dalam bentuk keberanian menghadapi penjajahan, tetapi juga dalam perjuangan menghadapi kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, dan berbagai persoalan kebangsaan.

 

“Hari ini, tantangan santri memang berbeda. Namun, substansi perjuangannya tetap sama: menjaga agama, merawat persatuan, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Menguatkan negeri dengan ilmu, akhlak, dan pengabdian,” ujarnya.

 

Sedangkan tema yang diusung saat ini adalah, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” mengandung pesan mendalam bahwa masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan kecerdasan intelektual dan kemajuan teknologi semata. Bangsa ini juga membutuhkan kekuatan moral, kedalaman spiritual, integritas, dan kepedulian sosial. Santri harus mampu memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Santri tidak boleh tertinggal dalam literasi digital, sains, kewirausahaan, ekonomi kreatif, maupun perkembangan dunia profesional. Pada saat yang sama, kemajuan tersebut harus tetap berpijak pada akhlakul karimah, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta semangat tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal.

 

Dengan demikian, santri bukan hanya menjadi penjaga tradisi, melainkan juga pelopor perubahan. Santri harus hadir sebagai pendidik, ulama, ilmuwan, pemimpin, pengusaha, birokrat, aktivis sosial, dan berbagai profesi lain yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam menuju Indonesia emas, santri harus naik kelas. Untuk mencapai Indonesia Emas tidak boleh hanya menjadi slogan pembangunan, melainkan harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pembangunan karakter bangsa.

 

Dalam konteks tersebut, terdapat beberapa agenda penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, penguatan kualitas pendidikan pesantren. Pesantren perlu terus meningkatkan mutu pembelajaran, kompetensi pendidik, fasilitas pendidikan, literasi digital, serta akses santri terhadap pendidikan tinggi dan pengembangan keterampilan. Kedua, membangun kemandirian ekonomi santri. Santri perlu didorong menjadi pelaku ekonomi produktif melalui pengembangan kewirausahaan, koperasi pesantren, ekonomi digital, pertanian, industri halal, dan usaha kreatif berbasis potensi lokal.

 

“Ketiga, memperkuat moderasi beragama dan persatuan bangsa. Santri harus menjadi teladan dalam menyampaikan Islam yang ramah, santun, dan mencerahkan. Perbedaan pilihan politik, latar belakang sosial, maupun pandangan keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak persaudaraan,” tutur H Iim.

 

Poin ke-empat, katanya, memperluas pengabdian sosial. Nilai-nilai pesantren harus hadir dalam upaya membantu masyarakat miskin, mendampingi kelompok rentan, menjaga lingkungan, memperkuat pendidikan keluarga, serta membangun solidaritas kemanusiaan. Sedagkan point terkahir, ke-lima, memperkuat kolaborasi. Masa depan santri membutuhkan sinergi antara pesantren, Nahdlatul Ulama, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kolaborasi ini penting agar potensi santri tidak hanya berkembang secara individual, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif bagi kemajuan daerah dan bangsa.

Namun refleksi bagi Nahdlatul Ulama Kabupaten Kuningan, HSN harus menjadi momentum untuk memperkuat khidmah organisasi. NU memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa santri dan generasi muda memperoleh ruang yang luas untuk belajar, berkembang, berkreasi, dan mengambil bagian dalam pembangunan. NU tidak cukup hanya kuat dalam jumlah jamaah dan besarnya kegiatan keagamaan. NU juga harus kuat dalam kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, penguatan keluarga, pendampingan masyarakat, dan kemampuan menjawab kebutuhan umat.

 

“Semangat khidmah harus diterjemahkan menjadi kerja nyata. Pengurus NU di setiap tingkatan, lembaga, badan otonom, pesantren, dan seluruh warga Nahdliyin perlu membangun gerakan yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” pintanya.

 

Di Kabupaten Kuningan, potensi pesantren, lembaga pendidikan, ulama, santri, dan masyarakat Nahdliyin merupakan modal sosial yang sangat besar. Modal tersebut harus dirawat melalui persatuan, tata kelola organisasi yang baik, kaderisasi yang berkesinambungan, serta program-program yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Adapun pesan moral dalam puncak acara tabligh akbar bersama Gus Muwafiq mengingatkan kita bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada penyampaian pesan keagamaan. Dakwah harus menjadi energi untuk membangun kesadaran, memperbaiki perilaku, memperkuat persaudaraan, dan menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

 

Santri harus tetap menghormati guru dan kiai, mencintai ilmu, menjaga adab, serta mengembangkan sikap terbuka terhadap kemajuan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat pula kerendahan hati dan tanggung jawab sosialnya. Kepada para santri, teruslah belajar dan berkarya. Kepada para kiai dan pengasuh pesantren, teruslah membimbing generasi dengan ilmu dan keteladanan. Kepada pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, berikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pendidikan pesantren dan pemberdayaan santri.

 

”Kami berharap pada seluruh warga Nahdliyin, mari kita jadikan semangat Hari Santri sebagai gerakan bersama untuk memperkuat persatuan, mengembangkan pendidikan, membangun kemandirian ekonomi, dan menjaga Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan bermartabat,” pungkas H Iim. (HEM/BK)