KUNINGAN, (BK).-
Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) bukan
sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum refleksi untuk menguatkan
kembali peran strategis santri, pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menjaga
keutuhan bangsa menuju Indonesia Emas tahun 2045.
Selain itu, memperkuat nilai-nilai
keislaman, serta mengawal perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih
maju, adil, dan bermartabat. Puncak acara peringatan HSN di Kabupaten Kuningan
melalui tabligh akbar bersama KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq menjadi ruang
penting untuk menyegarkan semangat keagamaan, kebangsaan, dan pengabdian
sosial. Kehadiran para santri, ulama, kiai, ibu nyai, pengurus NU, serta
masyarakat menunjukkan bahwa tradisi pesantren tetap menjadi kekuatan moral
yang hidup di tengah dinamika zaman,” komentar Sekretaris PCNU Kab. Kuningan, H
Iim Suryahim, Rabu (28/10/2026).
Ditambahkan H Iim, sejarah bangsa
Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para ulama dan santri.
Pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang
pembentukan karakter, penanaman cinta tanah air, dan penguatan kesadaran untuk
membela kemanusiaan serta menjaga persatuan bangsa. Resolusi Jihad 22 Oktober
1945 menjadi salah satu tonggak sejarah yang menegaskan kontribusi ulama dan
santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut harus
terus diwariskan, bukan hanya dalam bentuk keberanian menghadapi penjajahan,
tetapi juga dalam perjuangan menghadapi kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan,
intoleransi, dan berbagai persoalan kebangsaan.
“Hari ini, tantangan santri memang
berbeda. Namun, substansi perjuangannya tetap sama: menjaga agama, merawat
persatuan, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh
masyarakat. Menguatkan negeri dengan ilmu, akhlak, dan pengabdian,” ujarnya.
Sedangkan tema yang diusung saat ini
adalah, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” mengandung pesan
mendalam bahwa masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan kecerdasan
intelektual dan kemajuan teknologi semata. Bangsa ini juga membutuhkan kekuatan
moral, kedalaman spiritual, integritas, dan kepedulian sosial. Santri harus
mampu memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Santri tidak boleh tertinggal dalam literasi digital, sains,
kewirausahaan, ekonomi kreatif, maupun perkembangan dunia profesional. Pada
saat yang sama, kemajuan tersebut harus tetap berpijak pada akhlakul karimah,
nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta semangat tawasuth, tawazun, tasamuh,
dan i'tidal.
Dengan demikian, santri bukan hanya
menjadi penjaga tradisi, melainkan juga pelopor perubahan. Santri harus hadir
sebagai pendidik, ulama, ilmuwan, pemimpin, pengusaha, birokrat, aktivis
sosial, dan berbagai profesi lain yang memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat. Dalam menuju Indonesia emas, santri harus naik kelas. Untuk
mencapai Indonesia Emas tidak boleh hanya menjadi slogan pembangunan, melainkan
harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan
pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pembangunan karakter bangsa.
Dalam konteks tersebut, terdapat
beberapa agenda penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama,
penguatan kualitas pendidikan pesantren. Pesantren perlu terus meningkatkan
mutu pembelajaran, kompetensi pendidik, fasilitas pendidikan, literasi digital,
serta akses santri terhadap pendidikan tinggi dan pengembangan keterampilan. Kedua,
membangun kemandirian ekonomi santri. Santri perlu didorong menjadi pelaku
ekonomi produktif melalui pengembangan kewirausahaan, koperasi pesantren,
ekonomi digital, pertanian, industri halal, dan usaha kreatif berbasis potensi
lokal.
“Ketiga, memperkuat moderasi beragama
dan persatuan bangsa. Santri harus menjadi teladan dalam menyampaikan Islam
yang ramah, santun, dan mencerahkan. Perbedaan pilihan politik, latar belakang
sosial, maupun pandangan keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak
persaudaraan,” tutur H Iim.
Poin ke-empat, katanya, memperluas
pengabdian sosial. Nilai-nilai pesantren harus hadir dalam upaya membantu
masyarakat miskin, mendampingi kelompok rentan, menjaga lingkungan, memperkuat
pendidikan keluarga, serta membangun solidaritas kemanusiaan. Sedagkan point
terkahir, ke-lima, memperkuat kolaborasi. Masa depan santri membutuhkan sinergi
antara pesantren, Nahdlatul Ulama, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha,
dan masyarakat. Kolaborasi ini penting agar potensi santri tidak hanya
berkembang secara individual, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif bagi
kemajuan daerah dan bangsa.
Namun refleksi bagi Nahdlatul Ulama
Kabupaten Kuningan, HSN harus menjadi momentum untuk memperkuat khidmah
organisasi. NU memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa santri dan generasi
muda memperoleh ruang yang luas untuk belajar, berkembang, berkreasi, dan
mengambil bagian dalam pembangunan. NU tidak cukup hanya kuat dalam jumlah
jamaah dan besarnya kegiatan keagamaan. NU juga harus kuat dalam kualitas
pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, penguatan keluarga,
pendampingan masyarakat, dan kemampuan menjawab kebutuhan umat.
“Semangat khidmah harus diterjemahkan
menjadi kerja nyata. Pengurus NU di setiap tingkatan, lembaga, badan otonom,
pesantren, dan seluruh warga Nahdliyin perlu membangun gerakan yang terukur,
berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” pintanya.
Di Kabupaten Kuningan, potensi
pesantren, lembaga pendidikan, ulama, santri, dan masyarakat Nahdliyin
merupakan modal sosial yang sangat besar. Modal tersebut harus dirawat melalui
persatuan, tata kelola organisasi yang baik, kaderisasi yang berkesinambungan,
serta program-program yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Adapun pesan moral
dalam puncak acara tabligh akbar bersama Gus Muwafiq mengingatkan kita bahwa
dakwah tidak boleh berhenti pada penyampaian pesan keagamaan. Dakwah harus
menjadi energi untuk membangun kesadaran, memperbaiki perilaku, memperkuat
persaudaraan, dan menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
Santri harus tetap menghormati guru dan
kiai, mencintai ilmu, menjaga adab, serta mengembangkan sikap terbuka terhadap
kemajuan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat pula
kerendahan hati dan tanggung jawab sosialnya. Kepada para santri, teruslah
belajar dan berkarya. Kepada para kiai dan pengasuh pesantren, teruslah
membimbing generasi dengan ilmu dan keteladanan. Kepada pemerintah dan seluruh
pemangku kepentingan, berikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap
pendidikan pesantren dan pemberdayaan santri.
”Kami berharap pada seluruh warga
Nahdliyin, mari kita jadikan semangat Hari Santri sebagai gerakan bersama untuk
memperkuat persatuan, mengembangkan pendidikan, membangun kemandirian ekonomi,
dan menjaga Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan bermartabat,”
pungkas H Iim. (HEM/BK)
