![]() |
| Rita, anak Maryadi (80), yakin tengkorak di Lebakherang adalah ayahnya yang hilang setahun lalu. |
KUNINGAN,(BK).–
Penemuan tengkorak kepala manusia di wilayah Desa Lebakherang mengarah pada dugaan seorang lansia asal Desa Cilayung yang dilaporkan hilang sejak hampir satu tahun lalu. Keluarga korban bahkan meyakini temuan tersebut adalah jasad ayah mereka dan menolak dilakukan autopsi.
Kepala Desa Cilayung, Darmanto, membenarkan bahwa warganya atas nama Maryadi (80), warga RT 08 RW 02 Dusun Ciputat, telah hilang sejak menjelang bulan puasa tahun lalu. Sabtu (22/2/26)
“Betul, Pak RT Maryadi sudah hampir satu tahun tidak pulang. Beliau memang sudah pikun. Hilangnya menjelang Ramadan tahun lalu,” ujar Darmanto.
Menurutnya, saat itu Maryadi sempat berpamitan hendak mengunjungi anaknya di wilayah Cilimus Sari. Namun dalam perjalanan diduga hendak kembali ke Cilayung dan tidak pernah sampai.
Penemuan tengkorak terjadi di tanah wilayah Desa Lebakherang dan pertama kali diketahui warga Cilimus Sari. Selain tengkorak kepala, ditemukan pula tulang bagian lutut di sekitar jalan setapak, berjarak sekitar 300 meter dari titik terakhir korban terlihat.
Anak korban, Rita, yang merupakan anak keempat dari enam bersaudara, menuturkan bahwa ayahnya memang kerap berjalan tanpa arah sejak mengalami kepikunan. Pada hari terakhir terlihat, Maryadi bangun sekitar pukul 06.00 WIB dan mengatakan hendak pergi ke sawah mengambil arit.
“Saya sempat susul dan tarik supaya pulang, tapi tidak mau. Katanya mau ke sawah. Saya pikir nanti juga kembali sendiri,” kata Rita.
Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan tetangga, ayahnya sempat terlihat turun ke sawah lalu naik kembali. Rita kemudian mengejar dan mengajaknya beristirahat di saung.
“Saya ajak ke saung, saya kasih makan dan ngopi. Dia sempat bantu angkut padi sedikit. Setelah itu jalan lagi. Saya kira mau pulang ke rumah atau ke Ciputat,” ujarnya.
“Terakhir pakai baju abu-abu, kolor biru, bawa golok. Waktu saya cek ke rumah, sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.
Maryadi diketahui sudah tidak memiliki istri dan tinggal bersama anak-anaknya. Atas penemuan tengkorak tersebut, keluarga menyatakan menolak dilakukan autopsi dan meyakini jasad itu adalah Maryadi.
“Kami yakin itu bapak. Tidak perlu diautopsi,” tegas Rita.
“Tahlil kami lakukan di masjid setelah salat tarawih sebagai bentuk doa bersama untuk almarhum dan tidak dilaksanakan di rumah,” jelasnya. (Apip/ BK)






