Post ADS 1
Post ADS 1
REDAKSI
Senin, 3/23/2026 08:47:00 AM WIB
HeadlineRagam

Gotong Royong Ala Desa Widarasari: Rereongan Warga Sudah Berjalan Sebelum Program Sapoe Saribu


Celengan “Kencleng” terpasang di depan rumah warga Desa Widarasari, Kecamatan Kramatmulya, sebagai bentuk gotong royong pengumpulan dana sukarela untuk kepentingan sosial masyarakat.




KUNINGAN, (BK). –


Di tengah mulai digalakkannya program Sapoe Saribu oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Desa Widarasari, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, justru telah lebih dulu menerapkan pola gotong royong serupa melalui tradisi lokal bernama Kecleng atau Rereongan Warga.

Program berbasis swadaya masyarakat ini telah berjalan selama kurang lebih empat tahun di bawah kepemimpinan Kepala Desa Widarasari, Parhan Abdullah Syafi’i, S.Pd. Tradisi tersebut menjadi wujud nyata solidaritas sosial warga dalam membantu sesama tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.Senin ( 23/03/26)

Secara teknis, setiap rumah warga menyediakan celengan sederhana yang dibuat dari bekas gelas air mineral dan ditempel di depan rumah. Warga kemudian mengisi celengan tersebut secara sukarela dengan nominal bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.000 atau lebih.

Menariknya, pengumpulan dana dilakukan bersamaan dengan kegiatan ronda malam. Petugas Linmas bersama warga berkeliling mengambil isi celengan dari rumah ke rumah. Dana yang terkumpul selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sosial masyarakat.

Kepala Desa Widarasari, Parhan Abdullah Syafi’i, mengatakan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran bersama masyarakat untuk saling membantu. Ia menjelaskan, dana yang terkumpul digunakan untuk keperluan takziah, membantu warga yang sakit, kegiatan keagamaan, hingga kebutuhan peralatan kampung.

“Kami percaya, dari uang seribu rupiah yang dikumpulkan dengan keikhlasan, bisa tumbuh kekuatan besar untuk membangun desa,” ujarnya.

Ia menambahkan, transparansi menjadi hal penting dalam pelaksanaan program tersebut. Setiap bulan, laporan pemasukan dan pengeluaran dana ditempel di pos ronda agar dapat diketahui seluruh masyarakat.

Menurutnya, keberadaan Rereongan Warga tidak hanya memperkuat kepedulian sosial, tetapi juga meningkatkan rasa aman dan kebersamaan antarwarga. Ia berharap, tradisi ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.

Parhan berharap, semangat gotong royong seperti ini terus terjaga dan bisa diterapkan lebih luas. Ia juga mengungkapkan bahwa kemandirian masyarakat dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Harapannya, ini bisa menjadi contoh bagi desa lain di Jawa Barat bahkan Indonesia, bahwa kebersamaan bisa dibangun dari hal sederhana,” imbuhnya. (Apip/BK)