Ciawigebang, (BK).–
Praktik permainan harga saat panen kerap menjadi momok bagi petani. Namun hal itu tak terjadi di Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciawigebang. Babinsa setempat, Sertu Dadi Haryadi, turun langsung mengawal proses serap gabah oleh Bulog, Kamis (26/3/2026), guna memastikan harga tetap sesuai ketentuan pemerintah.
Bertempat di Dusun Cimuda RT 004/RW 004, sebanyak 1.877 kilogram gabah kering panen (GKP) milik petani, Ibu Casmi, berhasil diserap Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram. Jumlah tersebut berasal dari varietas padi Mawar dan Inpari 49.
Sertu Dadi Haryadi menegaskan, kehadirannya di lapangan bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan tidak ada celah bagi pihak-pihak yang mencoba memainkan harga di tingkat petani.
“Kami tidak ingin ada permainan harga. Petani harus mendapatkan haknya sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP),” tegasnya.
Menurutnya, pendampingan ini merupakan bagian dari tugas aparat kewilayahan dalam menjaga stabilitas pangan sekaligus melindungi kesejahteraan petani. Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga rantai distribusi hasil panen tetap sehat.
“Kalau semua pihak hadir dan mengawasi, petani tidak akan dirugikan. Ini bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Di sisi lain, perwakilan Bulog, Jamal, memastikan pihaknya menjalankan pembelian sesuai aturan yang berlaku. Ia menyebut serapan gabah ini menjadi bagian penting dalam menjaga cadangan beras nasional.
“Kami beli sesuai HPP, Rp6.500 per kilogram. Ini sudah menjadi komitmen kami untuk menjaga stabilitas harga dan stok beras,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Mekarjaya, Ade Pirdaus, serta Kaur Ekbang Desa Mekarjaya, Ade Andriana. Kehadiran mereka dinilai memperkuat pengawasan sekaligus memberikan kepastian kepada petani.
Ade Pirdaus menyebut, keterlibatan berbagai pihak dalam serap gabah menjadi solusi konkret atas persoalan klasik yang sering dihadapi petani saat panen raya.
“Dengan adanya pendampingan seperti ini, petani tidak lagi khawatir harga jatuh. Ini sangat membantu,” katanya.
Sementara itu, Ibu Casmi mengaku lega hasil panennya dapat terserap dengan harga yang layak. Ia mengaku sebelumnya sempat khawatir harga gabah akan anjlok.
“Alhamdulillah, gabah saya dibeli sesuai harga pemerintah. Kami sebagai petani merasa diperhatikan,” ungkapnya.
Secara tidak langsung, kegiatan ini menjadi sinyal kuat bahwa pengawasan di tingkat bawah mulai diperketat. Tidak hanya menjaga harga, tetapi juga memastikan distribusi hasil panen berjalan adil dan transparan.
Langkah ini diharapkan terus berlanjut agar petani tidak lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam rantai perdagangan hasil pertanian. (Apip/BK)








