Post ADS 1
Post ADS 1
Jumat, 4/17/2026 09:47:00 AM WIB
haedlinePendidikan

Kepala SMK Negeri 3 Kuningan, Saidun M.MPd, Tetap Konsisten Dalam Berpakaian Adat Kamis Nyunda

 

Kepala SMK Negeri 3 Kuningan, Saidun M.MPd



KUNINGAN, (BK).-

Sebagaimana anjuran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk mengenakan pakaian adat Sunda, Kepala SMK Negeri 3 Kuningan, Saidun M.MPd, tetap konsisten dalam berpakai adat sekali dalam seminggu tepatnya pada hari Kamis Nyunda.

 

Bagi kepala sekolah yang satu ini, katanya, tidak hanya dalam berpakain mengenakan adat Sunda. Termasuk pada hari itu selama berada dilingkungan sekolah seharusnya disertai pula dengan pengggunaan Bahasa Sunda yang baik benar. Seluruh Keluarga besar SMKN 1 Kuningan pada hari itu (Kamis Nyunda) selain mengenakan pakaian adat Sunda, juga dalam pelaksanaan Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) pengantarnya menggunakan bahasa Sunda. Bagi yang belum lancar dalam penggunaan bahasa daerah tersebut bisa bercampur dengan bahasa Indonesia.

 

“Baik dalam pelaksanaan materi pelajara matematika, kesenian, olahraga maupun matapelajaran lainnya diupayakan dapat menggunakan Bahasa Sunda. Kecuali dalam KBM Bahasa Inggris, tidak mungkin harus diganti dengan Bahasa Sunda,” ungkap Saidun, Kamis (16/4/2026).


 



Ditambahkan dia, dalam penggunaan serta pelestarian seni budaya atau berbahasa Sunda yang baik dan bener, kalau bukan oleh kita oleh siapa lagi. Orang Sunda harus lebih “ngamumule” (menjunjung tinggi) budaya sendiri, jangan sampai generasi kita dimasa mendatang tidak mengenali bahasa ibunya. Sebab dalam pelajaran Bahasa Sunda banyak mengandung nilai-nilai kebaikan yang sangat berharga untuk diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Bagiama caranya kita menghormati pada orang tua, atau teman sebaya maupun pergaulan dengan orang dibawah usia.   

 

“Saya juga asal dari Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah, namun selalu mencintai budaya dan Bahasa Sunda. Dalam sebuah peribahasa dikatakan, dimana kaki berpijak, disana langit dijunjung. Meski saya asal dari Jawa Tengah, namun selama ini hidup ditatar Sunda, maka sehaus kita  untuk ikut melestarikan budaya Sunda itu sendiri, baik cara berpakaian maupun dalam penggunaan bahasanya. Paling tidak sesuai anjuran Dinas Pendidikan Provinsi Jabar melalui program Kamis Nyunda yang dilakukanm oleh keluarga besar sekolah,” papar Saidun.


 


Namun dilabalik ngamumule seni budaya Sunda, diakuinya, belum menguasi penuh dalam penggunaan tata bahasa sunda terkait undak usuk basa. Sebab dalam penggunaan Bahasa  Sunda ada tingkatannya, yakni penggunaan bahasa untuk diri sendiri, orang lain maupun bagi orang usianya diatas atau dibawah kita. Termasuk penggunaan Bahasa Jawa juga ada istilah Bahasa Jawa Kromo Inggil, Madia dan Kromo.

 

Itulah kehebatan dalam berbahasa yang memiliki nilai-nilai luhur sebagaimana diajarkan oleh karuhun (leluhur) kita sejak dulu hingga sekarang yang harus kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, meski ditengah-tengah arus globalisasi maupun modernisasi. Sebab bahasa itu menandakan ciri suatu bangsa, karenanya dalam penggunaan bahasa daerah itu akan memperkaya hanasah budaya bangsa Indonesika. (HEM/BK)