KUNINGAN, (BK).-
Dimulainya
pemasangan kabel fiber optik yang dilakukan secara tertib dan rapih dapat
mempercantik wajah perkotaan Kuningan, karena yang semula kabel tersebut
dipasang di udara seakan berserakan kini
tertanam dibawah tanah (duckting).
Langkah
konkret pemindahan utilitas kabel fiber optik (FO) dari udara ke bawah tanah
diinisiasi melalui rapat perdana (kick-off meeting) yang digelar oleh Asosiasi
Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Koordinator Wilayah (Korwil)
Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Kuningan di Domo Cafe, Kamis
(2/4/2026).
Agenda
yang strategis ini menjadi tonggak kolaborasi antara pemerintah daerah,
operator telekomunikasi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menyamakan
visi, menetapkan target, serta merancang skema kerja sebelum proyek fisik
dieksekusi di lapangan.
Rapat perdana ini dihadiri oleh sejumlah pejabat struktural strategis Kabupaten Kuningan. Di antaranya Kepala Bidang (Kabid) Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Asep Abdus Syakur, Kabid Infrastruktur TIK Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Heri Juheri, serta perwakilan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Intan, juga hadir memimpin jalannya diskusi. Termasuk Ketua Korwil Apjatel Jawa Barat, Yudiana Arifin dan Handri Rochendi Wakil Koordinator Wilayah 2 Apjatel beserta para pimpinan operator telekomunikasi dan mitra pelaksana proyek.
Kabid
PUTR, Asep Abdus Syakur, menegaskan bahwa relokasi jaringan kabel ke bawah
tanah adalah program krusial yang sudah lama dinantikan demi menjamin
keselamatan ruang publik. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan proses penataan kabel dapat segera
direalisasikan secara bertahap sesuai dengan ruas jalan yang telah ditetapkan.
Dukungan dari seluruh operator sangat dibutuhkan agar program ini berjalan
optimal. Di sisi lain, pembenahan infrastruktur juga harus sejalan dengan
perluasan jangkauan digital.
Sementara,
Kabid Infrastruktur TIK Diskominfo, Heri Juheri, menyoroti peran vital fiber
optik sebagai tulang punggung konektivitas. Ia mencatat bahwa ketimpangan akses
internet masih menjadi pekerjaan rumah, di mana sejumlah kecamatan belum
terjangkau layanan fiber optik secara maksimal.
“Selain
penataan untuk estetika kota, kami juga mendorong pemerataan jaringan internet
hingga ke desa-desa yang belum terlayani. Ini penting untuk mendukung aktivitas
masyarakat yang kini sangat bergantung pada konektivitas digital,” papar Heri.
Sementara,
perwakilan DPMPTSP, Intan, mengingatkan prinsip kehati-hatian. Seluruh operator
dan pelaksana proyek diminta untuk memastikan kepatuhan perizinan sebelum
melakukan aktivitas fisik. Legalitas terkait penggunaan ruas jalan dan
konstruksi ducting harus dipenuhi agar proyek berjalan aman dan tanpa hambatan
hukum.
Menyambut
arahan tersebut, Ketua Korwil Apjatel Jawa Barat, Yudiana Arifin, menegaskan
komitmen penuh pihak asosiasi. Menurutnya, migrasi jaringan ke bawah tanah
adalah sebuah keniscayaan industri. Selain meningkatkan kerapian dan keamanan,
langkah ini bertujuan meminimalisir gangguan layanan serta meningkatkan
keandalan jaringan. Dalam hal ini, perlunya kolaborasi antar pelaku industri
agar proses penataan berjalan efektif, efisien, dan tidak membebani salah satu
pihak melalui pendekatan bertahap—mulai dari perapihan hingga relokasi total.
Rapat
ini turut diisi dengan pemaparan teknis komprehensif dari mitra pelaksana
bersertifikasi Apjatel, yakni PT Intan, FBI, OLT, dan ATP. Pemaparan mencakup:
Aspek teknis pelaksanaan penggalian, Desain jaringan dan spesifikasi
infrastruktur ducting, Skema kerja sama operasional di lapangan. (HEM/BK)




