KUNINGAN, (BK).-
Peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) di
Kabupaten Kuningan mengawali untuk mempercepat transformasi pertanian berbasis inovasi
sesuai perkembangan jaman berbasis inovasi dari tradisi ke teknologi moderen,
berlansung di Lapangbola Desa Gunungkeling Kecamatan Cigugur.
Kegiatan yang digelar selama dua hari,
berakhir Rabu (10/6/2026) itu, cukup memotivasi para pelaku usaha pertanian yang
tergabung dalam berbagai kelompok tani. Pelaksanaan HKP ke-54 ini mendorong
para pelaku usaha tani untuk memanfaatkan teknologi moderen upaya peningkatan
produksi dan kualitas hasil pertanian bagi kemakmuran masyarakat, khususnya
para petani yang ada di Kabupaten Kuningan dengan penggunaa alat-alat mesin
pertanian.
Di tengah tantangan perubahan iklim,
alih fungsi lahan, keterbatasan tenaga kerja pertanian, dan tuntutan
peningkatan produksi pangan nasional, Kabupaten Kuningan memilih untuk tidak
bertahan dengan cara lama. Daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu
lumbung pangan Jawa Barat itu kini mempercepat transformasi pertanian melalui
penguatan inovasi, modernisasi alat dan mesin pertanian, pengembangan sumber
daya manusia, serta pemanfaatan teknologi dalam proses produksi.
Mengusung tema "Melalui Hari Krida
Pertanian Kita Jaga Tradisi, Kembangkan Inovasi untuk Ketahanan Pangan
Kuningan", peringatan HKP tahun ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi
bagi para pelaku utama dan pelaku usaha pertanian, tetapi juga menjadi ruang
konsolidasi untuk memperkuat arah pembangunan pertanian yang modern, adaptif,
dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan
Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., Didampingi Kepala Bidang
(Kabid) Penyuluhan, Ucen SE, mengatakan, bahwa sektor pertanian saat ini sedang
memasuki fase perubahan yang sangat cepat. Oleh karena itu, kemampuan
beradaptasi menjadi kunci keberhasilan pembangunan pertanian di masa depan.
"Pertanian tidak bisa lagi hanya
mengandalkan cara-cara konvensional. Modernisasi, mekanisasi, digitalisasi, dan
inovasi menjadi kebutuhan yang harus kita dorong bersama. Namun di saat yang
sama, kita tetap harus menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini
menjadi kekuatan masyarakat agraris," ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, HKP merupakan momentum
penting untuk mempertemukan seluruh elemen pembangunan pertanian dalam satu
gerakan bersama. HKP bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah ruang
konsolidasi yang mempertemukan petani, penyuluh, pemerintah, akademisi, dunia
usaha, komunitas, hingga generasi muda dalam satu visi besar membangun
pertanian yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
Transformasi yang dilakukan mulai
menunjukkan hasil positif. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten
Kuningan menunjukkan produksi beras daerah meningkat dari 225.995 ton pada
tahun 2024 menjadi 254.124 ton pada tahun 2025. Pada periode yang sama, surplus
beras Kabupaten Kuningan meningkat dari 93.070 ton menjadi 120.244 ton atau
naik hampir 29 persen.
“Capaian tersebut memperkuat posisi Kabupaten
Kuningan sebagai salah satu daerah penyangga pangan strategis di Jawa Barat
yang turut berkontribusi terhadap ketahanan pangan regional maupun nasional. Peningkatan
produksi tersebut merupakan hasil dari sinergi berbagai program pembangunan
pertanian, mulai dari penguatan penyuluhan, peningkatan indeks pertanaman,
pemanfaatan teknologi budidaya, pengendalian organisme pengganggu tanaman,
hingga penguatan sarana dan prasarana pertanian. Di balik angka-angka tersebut
ada kerja keras petani, dedikasi penyuluh pertanian, dukungan pemerintah, serta
kolaborasi berbagai pihak yang bekerja bersama menjaga produksi pangan tetap
tumbuh," ujarnya.
Dijelaskannya, salah satu fokus
pembangunan pertanian Kabupaten Kuningan saat ini adalah percepatan mekanisasi
pertanian. Keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian, meningkatnya biaya
produksi, serta kebutuhan efisiensi mendorong penggunaan alat dan mesin
pertanian secara lebih luas. Oleh sebab itu, peringatan HKP ke-54, Pemerintah Kabupaten Kuningan
menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian berupa Combine Harvester kepada
UPJA Motekar Desa Cihirup, Kecamatan Ciawigebang.
Keberadaan alsintan tersebut diharapkan
mampu meningkatkan efisiensi panen, mengurangi kehilangan hasil, mempercepat
proses produksi, dan meningkatkan pendapatan petani. Mekanisasi bukan sekadar
penggantian tenaga manusia oleh mesin, tetapi bagian dari strategi besar untuk
meningkatkan daya saing pertanian. Ketika biaya produksi dapat ditekan dan
produktivitas meningkat, maka kesejahteraan petani juga akan semakin baik.
Karena itu, modernisasi pertanian harus terus dipercepat.
“Selain teknologi dan sarana produksi,
pembangunan sumber daya manusia menjadi perhatian utama. Kabupaten Kuningan
menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar sektor pertanian adalah
regenerasi petani. Oleh sebab itu, berbagai program mulai diarahkan untuk menarik
minat generasi muda agar melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan dan
memiliki masa depan,” jelas Wahyu.
Kegiatan HKP ini ditandai pula lomba
inovasi pertanian, asah terampil petani dan penyuluh, hingga lomba video
edukatif Tatapakan Jati, pemerintah daerah berupaya membangun budaya inovasi
sekaligus memperkenalkan wajah baru pertanian yang lebih modern dan kreatif. Pertanian
masa depan membutuhkan generasi yang adaptif terhadap teknologi, memiliki
kemampuan kewirausahaan, dan mampu menciptakan nilai tambah. Kita ingin semakin
banyak anak muda yang bangga menjadi petani.
Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Wawan Setiawan, S.Hut., M.T.,
Bagi Kuningan, katanya, transformasi
pertanian bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menggabungkan
nilai-nilai lokal dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan
tersebut diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pertanian yang
tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan. Dalam rangkaian HKP,
Pemerintah Kabupaten Kuningan juga melaksanakan Gerakan Pangan Murah sebagai
upaya menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. Program tersebut
menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah sekaligus memperkuat
akses masyarakat terhadap bahan pangan pokok dengan harga yang lebih
terjangkau.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat
Yanuar, M.Si., disampaikan Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan,
Wawan Setiawan, S.Hut., M.T., menegaskan, bahwa pembangunan pertanian harus
bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tujuan akhir pembangunan
pertanian adalah kesejahteraan. Petani harus semakin maju dan sejahtera,
masyarakat memperoleh pangan yang cukup dan terjangkau, serta ekonomi daerah
tumbuh semakin kuat.
Di tengah berbagai tantangan global,
mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, hingga meningkatnya
kebutuhan pangan, Kabupaten Kuningan terus berupaya membangun sistem pertanian
yang lebih tangguh. Peningkatan produksi, percepatan mekanisasi, penguatan
sumber daya manusia, pemanfaatan inovasi, serta pengembangan kelembagaan petani
menjadi bagian dari strategi besar menuju pertanian yang berkelanjutan.
“Hari Krida Pertanian ke-54 ini menjadi
penanda bahwa transformasi tersebut tidak lagi berada pada tataran wacana,
melainkan sedang berlangsung di lapangan. Dari tradisi menuju teknologi, dari
ketahanan menuju daya saing, Kabupaten Kuningan tengah membangun fondasi untuk
menjadi salah satu model pembangunan pertanian modern berbasis inovasi dan
ketahanan pangan yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,”
pungkas Wawas. (HEM/BK)