KUNINGAN, (BK).
Desa Babatan, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, memiliki perjalanan sejarah panjang sebelum berkembang menjadi pemerintahan desa seperti saat ini. Berawal dari sebuah Kampung Babakan yang merupakan bagian dari Desa Kadugede, Desa Babatan kini tumbuh menjadi desa dengan berbagai potensi pembangunan dan kearifan lokal yang terus dijaga masyarakat. Jumat (10/07/2026)
Berdasarkan sejarah singkat Desa Babatan, pada tahun 1936 Kampung Babakan memisahkan diri dari Desa Kadugede dan berdiri menjadi Desa Babatan. Saat itu kepemimpinan desa dijalankan oleh Kuwu Israf selama satu tahun. Namun, setelah itu Desa Babatan kembali bergabung dengan Desa Kadugede hingga tahun 1946.
Pada 29 Januari 1946, Desa Babatan kembali memisahkan diri dari Desa Kadugede dan dipimpin oleh Kuwu Asmawijaya. Sejak saat itu, Desa Babatan terus berkembang hingga sekarang dengan memiliki dua dusun dan 10 Rukun Tetangga (RT), dengan luas wilayah mencapai 35,397 hektare.
Kepala Desa Babatan, Romi Andrian, S.Pd.I, mengatakan perjalanan sejarah Desa Babatan tidak terlepas dari peran para tokoh terdahulu yang telah membangun fondasi pemerintahan desa.
“Desa Babatan memiliki sejarah panjang. Dari awalnya hanya sebuah kampung, kemudian berkembang menjadi desa yang memiliki pemerintahan sendiri dan terus mengalami kemajuan sampai sekarang,” ujar Romi Andrian.
Ia menjelaskan, salah satu peninggalan sejarah yang masih menjadi bagian penting bagi masyarakat Desa Babatan adalah keberadaan makam Syeh Maulana Mansyur atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Lautan. Nama Pangeran Lautan kemudian menjadi nama wilayah yang berada di RT 08 RW 02 Dusun Kaliwon, Desa Babatan, wilayah Cilaut.
Menurut Romi, sejak awal berdiri, jumlah penduduk Desa Babatan sekitar 450 jiwa. Seiring perkembangan zaman, jumlah penduduk terus meningkat hingga mencapai sekitar 1.680 jiwa.
“Perkembangan Desa Babatan tidak hanya terlihat dari jumlah penduduk, tetapi juga dari pembangunan, pelayanan masyarakat, serta berbagai kegiatan pemberdayaan yang terus dilakukan,” katanya.
Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Babatan telah mengalami 17 kali pergantian kepemimpinan yang terdiri dari 10 kepala desa atau kuwu dan 7 pejabat sementara. Sementara itu, kantor pemerintahan desa yang sebelumnya berada di lingkungan pemukiman RT 03 RW 01 Dusun Pahing sejak tahun 1936 hingga 2003, kemudian dipindahkan ke Jalan Tentara Pelajar Desa Babatan sampai sekarang.
Romi menuturkan, nama Babatan sendiri dipercaya berasal dari kata “babat” yang memiliki arti membuka atau membersihkan kawasan untuk dijadikan tempat tinggal maupun lahan pertanian. Nama tersebut menjadi simbol perjuangan para pendahulu dalam membangun wilayah dengan kerja keras dan semangat kebersamaan.
“Nilai gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan masih menjadi budaya yang terus dipertahankan masyarakat Desa Babatan hingga saat ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perkembangan Desa Babatan saat ini cukup pesat. Berbagai pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan administrasi, pengembangan sektor pertanian, perikanan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat terus dilakukan.
Salah satu potensi unggulan Desa Babatan berada pada sektor pertanian dan perikanan. Selain itu, melalui BUMDes Berkah Mandiri, pemerintah desa terus mendorong berbagai program ekonomi masyarakat, seperti ketahanan pangan, budidaya hortikultura, perikanan, serta pengembangan usaha masyarakat.
Pemerintah Desa Babatan berharap ke depan desa tersebut dapat terus berkembang menjadi desa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
“Harapan kami, Desa Babatan terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, memperkuat pembangunan, mengembangkan potensi ekonomi desa, serta menjaga kebersamaan agar pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan,” pungkas Romi Andrian.(Apip/BK)

