Kepala SMK Negeri 1 Kuningan, Elpasa MPd, mengawali pemasangan ecobrick dari bahan botol meneral bekas lewat pelajaran Mulok hingga menjadi hiasan tampak indah berlokasi di lingkungan sekolah sekitar.
KUNINGAN, (BK).-
Sejumlah murid SMK Negeri 1 Kuningan
menggelar kegiatan Kokurikuler dari bahan botol bekas dijadikan sebuah hiasan
indah dan menarik bertuliskan I Lova Neper (Saya Cinta Negeri Pertanian) berlokasi
di lingkungan sekolah setempat, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan kokurikuler Ecobrick merupakan pembelajaran berbasis proyek yang
mengintegrasikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan
Muatan Lokal (Mulok). Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian
peserta didik terhadap lingkungan melalui pemanfaatan sampah plastik menjadi
produk yang bermanfaat dan bernilai guna.
Dalam kegiatan ini, peserta didik
mengumpulkan botol bekas air mineral dan
sampah plastik yang bersih serta kering. Sampah plastik tersebut dipotong
kecil-kecil, kemudian dimasukkan dan dipadatkan ke dalam botol hingga menjadi
ecobrick. Ecobrick yang telah dibuat selanjutnya dapat disusun menjadi berbagai
bentuk karya, seperti kursi sederhana, meja, hiasan, atau media edukasi
lingkungan sesuai kebutuhan sekolah.
“Melalui kegiatan ini, peserta didik
tidak hanya mempelajari konsep pencemaran lingkungan, pengelolaan sampah, dan
prinsip pemanfaatan kembali bahan bekas dalam mata pelajaran IPAS. Akan tetapi mengembangkan kreativitas, mengenal nilai kearifan lokal dalam menjaga
kebersihan dan kelestarian lingkungan melalui Mulok,” ungkap Kepala SMK Negeri
1 Kuningan, Elpasa MPd.
Ditambahkan Elpasa, diharapkan kegiatan tersebut
dapat membentuk kebiasaan hidup bersih, meningkatkan kerja sama, tanggung
jawab, dan kreativitas peserta didik. Selan itu, para murid untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih
bersih, sehat, dan berkelanjutan. Termasuk kecintaan terhadap lingkungan diluar
sekolah. Adapun tujuan kegiatan tersebut antara lain; meningkatkan kepedulian
lingkungan dengan membiasakan peserta didik mengelola sampah plastik secara
bertanggung jawab.
“Selain itu, mengurangi sampah plastik
yang tercecer melalui pemanfaatan botol bekas air mineral dan sampah plastik
bersih serta kering. Mengintegrasikan pembelajaran IPAS dan Mulok melalui
praktik pengelolaan sampah, pelestarian lingkungan, dan pengembangan
kreativitas. Termasuk mengembangkan keterampilan peserta didik dalam membuat
produk ecobrick yang bermanfaat. Menumbuhkan karakter gotong royong, disiplin,
tanggung jawab, dan kerja sama selama proses pembuatan ecobrick. Mendorong perilaku 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
dalam kehidupan sehari-hari dan mewujudkan lingkungan SMK Negeri 1 Kuningan
yang bersih, hijau, dan berbudaya lingkungan,” tutur Elpasa.
Dijelaskannya, terbentuknya produk
ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai karya kreatif dan media edukasi lingkungan.
Selan itu, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam
mengelola sampah plastik. Tumbuhnya kebiasaan memilah dan memanfaatkan sampah
secara bertanggung jawab. Termasuk terwujudnya kolaborasi antara pembelajaran
IPAS, Mulok, dan kegiatan kokurikuler dalam mendukung pelestarian lingkungan
sekolah.
Menururt keterangan, pencemaran lingkungan
yangdiakibatkan sampah plastik sangat berdampak terhadap kusuburan tanah maupun
kulaitas air tanah. Sebab sampah plastik ini tidak bisa terurai selama 10 tahun
bahkan hingga 1.000 apabila berada didalam tanah. Limbah plastik diatas
permukaan yang terkena sinar matahari akan hancur memakan waktu selama kurang
lebih 10 tahun. Lebih parah lagi jika sampah plastik tersubut berada di dalam
tanah, maka akan berpengaruh terhadap struktur tanah, kesuburan serta berdampak
terhadap kualitas air tanah sehingga dapat merugikan bagi kehidupan.
“Untuk itu, kami penjarakan sampah plastik
ini merlalui pelajaran Mulok Ecobrick agar tidak mencemari lingkungan
sekitarnya. Kami mengimbau pada semuanya agar tidak membuang sampah sembarangan,
khususnya dalam membuang limbah plastik yang sulit diurai,” pungkas Elpasa. (HEM/BK)




