Post ADS 1
Post ADS 1
REDAKSI
Selasa, 2/03/2026 07:29:00 PM WIB
HeadlineRagamWisata

Mata Air Cibulakan di Cikaso Disebut Dijaga Ular Hitam, Warga Ungkap Kisah Mistis yang Terus Dijaga

Foto ilustrasi: Mata Air Cibulakan di Desa Cikaso yang dipercaya masyarakat setempat dijaga oleh ular hitam, menjadi bagian dari cerita turun-temurun warga sekitar Selasa (3/3/2026)




KUNINGAN,(BK).– 

Mata air Cibulakan, salah satu dari tujuh sumber mata air yang berada di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, menyimpan cerita mistis yang hingga kini masih diyakini dan dijaga oleh warga setempat.

Sumber air yang terletak di sekitar Sawah Lope itu berada di tengah hamparan persawahan dan lahan tanaman bawang, serta dikelilingi tumbuhan alami. Meski demikian, mata air tersebut tidak pernah mengalami kekeringan, bahkan saat musim kemarau panjang.

Cerita tentang mata air Cibulakan diungkapkan Daeng Ali, warga Kecamatan Cigugur yang menikah dengan warga asli Cikaso dan telah menetap di desa tersebut selama kurang lebih 16 tahun.

Kepada media online Bokor Kuningan, Selasa (3/3/2026), Daeng Ali mengatakan bahwa mata air Cibulakan memiliki keterkaitan dengan sumber air lainnya, seperti Cibango dan Cipasantren.

“Air Cibulakan ini masih satu jalur dengan sumber Cibango dan Cipasantren. Sampai sekarang tidak pernah kering meskipun kemarau,” ujarnya.

Ia menjelaskan, mata air Cibulakan berada di Blok Nusa, Dusun Manis, dengan ukuran sekitar 2 x 3 meter. Berbeda dengan sumber mata air lain yang biasanya ditandai pohon besar, Cibulakan justru hanya dikelilingi pepohonan pendek.

“Biasanya mata air itu ada pohon gede, tapi Cibulakan tidak. Bisa dilihat sendiri, hanya dikelilingi tanaman pendek,” kata Daeng Ali.

Lebih jauh, Daeng Ali menuturkan adanya kepercayaan turun-temurun bahwa mata air Cibulakan dilindungi oleh seekor ular hitam berukuran besar. Keberadaan ular tersebut diyakini muncul tergantung niat orang yang datang ke lokasi.

“Kalau ada orang datang dengan niat jahat, ular itu akan ngajirim atau menampakkan diri. Tapi kalau niatnya baik, tidak akan terjadi apa-apa,” tuturnya.

Ia menambahkan, kemunculan ular hitam tersebut tidak mengenal waktu tertentu, baik siang maupun malam, melainkan bergantung pada sikap dan niat pengunjung.

Menurut cerita yang berkembang, pernah ada seseorang yang hendak mengalirkan air untuk tanaman bawang dan melintas di sekitar mata air Cibulakan. Saat itu, orang tersebut melihat seekor ular hitam besar melingkari kolam yang dipenuhi bebatuan di sekelilingnya.

“Orang itu langsung lari terbirit-birit karena ketakutan,” ungkap Daeng Ali.

Fenomena tersebut, kata dia, bukan hanya dialami satu orang. Beberapa warga lain juga mengaku pernah melihat kejadian serupa. Bahkan, orang tua terdahulu sangat menjaga keberadaan mata air Cibulakan karena dianggap sebagai salah satu dari tujuh mata air yang dikeramatkan di Desa Cikaso.

“Bapak mertua saya sering cerita, dulu orang-orang tua sangat menjaga mata air ini. Tidak sembarang orang boleh berbuat macam-macam,” katanya.

Ia menegaskan, kepercayaan tersebut sejatinya menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan sumber air. Upaya itu dilakukan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga hingga kini.

“Percaya atau tidak soal cerita mistisnya, itu hak masing-masing. Tapi yang jelas, cara orang dulu menjaga alam patut kita hormati,” ujarnya.

Terpisah, sejumlah warga menilai bahwa cerita-cerita mistis yang berkembang justru menjadi benteng alami agar sumber mata air tidak dirusak oleh tangan manusia.

Dalam konteks keimanan, Daeng Ali juga mengingatkan bahwa keberadaan alam gaib bukanlah sekadar mitos. Ia merujuk pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, di antaranya QS Al-Baqarah ayat 33 dan QS Adz Dzariyat ayat 56, yang menegaskan keberadaan makhluk selain manusia di alam semesta.

“Alam gaib itu ada, dan itu sudah jelas dalam Al-Qur’an. Tinggal bagaimana manusia menyikapinya dengan bijak,” pungkasnya. (Apip/BK)