![]() |
| Sahedi menjajakan mangkok dan piring di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Rabu (4/3/26). |
KUNINGAN,(BK). –
Di tengah aktivitas perkantoran di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, seorang pedagang peralatan rumah tangga tampak menjajakan dagangannya, Rabu (4/3/26). Pria asal Indramayu yang kini mengontrak di Majalengka itu setia menawarkan mangkok dan piring keliling dengan cara ditenteng menggunakan tangan, demi menghidupi keluarganya.
Sahedi merupakan ayah dari satu orang anak yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP. Setiap hari, ia berkeliling menawarkan peralatan rumah tangga ke sejumlah titik keramaian, termasuk kawasan perkantoran Disdikbud Kuningan.
“Sudah sekitar 15 tahun saya jualan keliling seperti ini,” ujarnya saat ditemui di sela beristirahat.
Di tengah aktivitas perkantoran di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, seorang pedagang peralatan rumah tangga tampak menjajakan dagangannya, Rabu (4/3/26). Pria asal Indramayu yang kini mengontrak di Majalengka itu setia menawarkan mangkok dan piring keliling dengan cara ditenteng menggunakan tangan, demi menghidupi keluarganya.
Sahedi merupakan ayah dari satu orang anak yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP. Setiap hari, ia berkeliling menawarkan peralatan rumah tangga ke sejumlah titik keramaian, termasuk kawasan perkantoran Disdikbud Kuningan.
“Sudah sekitar 15 tahun saya jualan keliling seperti ini,” ujarnya saat ditemui di sela beristirahat.
Ia menjelaskan, dalam sekali membawa barang, jumlahnya tidak sedikit. Untuk mangkok ukuran besar, ia membawa sekitar 125 buah, sedangkan mangkok kecil dijual dengan sistem tiga buah dalam satu paket. Sementara itu, piring ukuran besar yang dibawanya berjumlah sekitar 40 buah.
Menurutnya, dari seluruh barang yang dibawa hari itu, piring kecil lebih dulu terjual.
“Yang kecil-kecil biasanya lebih cepat laku,” tuturnya.
Sahedi mengaku membawa sekitar lima lusin piring dalam sekali jalan. Namun, barang dagangannya kerap tercampur antara ukuran kecil dan besar agar lebih mudah ditawarkan kepada pembeli.
Ia biasanya berkeliling dari pagi hingga sore hari, menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan keramaian. Saat lelah, ia beristirahat sejenak di sekitar area perkantoran sebelum kembali menawarkan dagangannya.
Meski harus berpindah-pindah tempat, Sahedi tetap bersyukur karena usaha tersebut mampu menopang kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anaknya. Ia berharap dagangannya terus laris agar dapat terus bertahan di tengah persaingan dan kondisi ekonomi yang tidak menentu.
“Yang penting bisa terus jualan dan anak bisa sekolah sampai selesai,” katanya penuh harap.(Apip/BK)







