Kepala SMA Negeri Kadugede Kabupaten Kuningan, Rhida Jaya Bhuana SPd, MPd, dalam acara Halal Bihalal Idul Fitri 1 Syawal 1447 H berlangsung di halaman sekolah setempat, Senin (30/3/2026).
KUNINGAN,
(BK).-
Keluarga
besar SMAN 1 Kadugede Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan halal bihalal Idul
Fitri 1 Syawal 1447 H/2026 M yang diikuti oleh seluruh peserta didik, staf
pengajar, dan pegawai tata usaha (TU) berlangsung di lingkungan sekolah
setempat, Senin 30 Maret 2026.
“Ada
dua makna yang bisa petik dalam suasana Idul Fitri ini. Id, artinya kembali, Fitri artinya makan atau
berbuka. Jadi, pada hari raya Idul Fitri kita boleh berbuka, boleh makan. Bukan
hanya boleh, tapi wajib. Di tanggal 1 Syawal semua umat Islam diharamkan
berpuasa,” demikian diungkapkan Kepala SMA Negeri 1 Kadugede, Rhida Jaya Bhuana
MPd.I, dihadapan para siswa, guru dan TU selepas upacara berlangsung di halaman
sekolah setempat.
Lanjut
Riuda, itulah makna dari idul fitri. Kita berbahagia menyambutnya setelah
sebulan penuh di siang hari kita harus menahan lapar dan haus. Arti yang kedua,
Fitri dimaknai sebagai Fitrah, yang artinya suci. Di sinilah hakikat makna dari
Idul Fitri. Kita kembali suci setelah melakukan ritual ibadah selama sebulan lamanya
di bulan suci Ramadhan. Setelah berpuasa di siang hari, mendirikan shalat
tarawih di malam hari, tadarus, dan makan sahur menjelang imsak, serta menahan
diri dari ragam perbuatan dosa, kita seolah-olah kembali seperti bayi yang baru
lahir. Bayi yang baru lahir ibarat kertas putih yang belum digoresi apa pun.
Itulah orang yang telah berhasil melewati Ramadhan dengan perbuatan amal
sholeh.
“Semua
dosanya diampuni, dan pahala berlimpah menanti. Jika diibaratkan bayi yang baru
lahir dalam hal tak punya dosa. Begitu
pun dengan silaturahmi kita hari ini. Setelah melewati libur yang cukup panjang
di hari-hari menjelang dan setelah hari raya Idul Fitri 1447 H tahun ini, kita
kembali ke sekolah dengan semangat baru guna menyongsong hari esok yang lebih
cerah. Kalian adalah ibarat matahari yang baru terbit, yang sebentar lagi akan
memancarkan cahayanya ke seantero jagat. Kalianlah matahari itu, yang akan
menerangi dunia ini dengan penuh kehangatan dan semangat. Ingat, matahari tidak
sekadar memberikan cahaya dan mencahayai, tapi juga memberikan kehidupan,”
papar Rhida.
Ditambahkannya,
termasuk daun-daun berfotosintesis, dan mekar jadi sumber energi bagi manusia
karena manusia mengonsumsi pangan dari tumbuhan. Hewan-hewan pun merasakan
kehangatan yang sama sehingga tumbuh menjadi sapi yang gemuk, kambing yang
sehat, ayam yang bertelur dan berdaging, semua karena peran matahari yang
memberi hidup. Manusia itu sendiri pun berkembang dan sehat karena cahaya
matahari. Maka, jadilah kita seperti matahari yang memberi hidup. Syaratnya
sederhana, jadilah kita semua sebagai manusia yang berdisiplin dan belajar
keras untuk menyongsong hari cerahmu, bukan hanya besok, tapi juga dimulai hari
ini.
Setelah
apel pagi, dilanjutkan dengan bermusafahah (bersalam-salaman) antara guru dan
peserta didik, guru dengan guru, dan peserta didik dengan peserta didik
sehingga nampak barisan itu mengular di tengah lapang. Bukan hanya pada peserta
didik, Kepala Sekolah juga memberikan pengarahan di hadapan dewan guru dan staf
TU dalam acara brifing singkat yang berlangsung di ruang guru. Dalam arahannya,
Kepala Sekolah mengajak guru dan TU untuk kembali ke tugas pokok dann fungsi
(tupoksi) masing-masing.
”Tidak
ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di sekolah ini. Semua bapak ibu,
termasuk saya sendiri, punya peran sendiri-sendiri yang harus dijalankan
sehingga terjadi sinergi untuk mencapai cita-cita bersama. Tugas kita adalah
mengantarkan generasi muda menjadi bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang
lain. Itulah hakikat dari mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita mendapatkan tugas
mulia mengajar dan mendidik generasi bangsa agar berguna bagi nusa, bangsa, dan
agamanya, ” pungkas Rhida. (HEM/BK)




